Sabtu, 15 Januari 2022

TAHUN PENAMPIAN (6)

 

Ayat Bacaan Hari ini: Lukas 22:24-38

 

Ayat Hafalan: tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” Lukas 22:33

 

Setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan. Pertanyaannya adalah bagaimana kita meresponi kegagalan tersebut. Banyak orang yang akhirnya berhenti melayani Tuhan karena merasa bersalah dan gagal. Tetapi kegagalan bukanlah akhir segalanya. Sebaliknya, kegagalan bisa menjadi awal yang baru dan bangkit menjadi pribadi yang lebih kuat dalam mengikut Kristus.

 

Petrus mengalami kegagalan yang mengubah hidup tersebut. Yesus memperingatkan dia bahwa Setan meminta ijin untuk “menampi” para murid seperti gandum – menggoncang mereka untuk memisahkan gandum dan sekam. Musuh ingin mengguncang iman Petrus dengan harapan dia jatuh dan menjauh dari Yesus seperti sekam yang tertiup angin.

 

Petrus sangat percaya pada janjinya yang ia ucapkan kepada Yesus, “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!” (Lukas 22:33). Namun si jahat tahu kekuatan rasa takut dan menggunakannya untuk menyerang para murid. Lebih lagi, Setan tahu bahwa para murid akan merasa terluka kepada ketidaksetiaan mereka sendiri. Orang dengan harga diri yang terluka tidak terelakkan sering mempertanyakan apakah dirinya berarti.

 

Saat setan menyerang umat Tuhan, tujuannya adalah untuk menghancurkan iman mereka dan membuat mereka percaya bahwa dirinya tidak berharga dan tidak berguna bagi Tuhan. Setan ingin agar kita menjauh dari Tuhan dan tidak melayani Dia. Oleh karena itu, Setan menyerang apa yang menjadi kekuatan kita – wilayah yang kita merasa bahwa diri kita tidak terkalahkan, atau setidaknya terlindungi dengan baik. Dan ketika Setan berhasil, kita akan merasa kecewa dan moral kita jatuh. Namun kita tidak harus terus menerus mengasihani diri.

 

Jika kita mau, Tuhan bisa menjadikan kegagalan kita untuk membersihkan hidup kita. Itulah yang dilakukan Petrus, dia merendahkan hatinya, dia taruh harga dirinya di bawah kaki Kristus dan mengijinkan Tuhan memulihkan hidupnya. Setelah itu, dia tidak takut dihina, dianiaya dan mati untuk memberitakan Injil. Kegagalan yang dialami Petrus menjadi katalis untuk membangkitkan imannya menjadi lebih kuat dan memiliki kehambaan yang sejati.

 

Hari ini apakah ada kegagalan yang menjadi ganjalan bagi Anda untuk lebih lagi melayani Tuhan? Mari datang kepada-Nya dan ijinkan Tuhan memakai kegagalan Anda untuk maksud-Nya yang mulia.

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *