Selasa, 11 Januari 2022

TAHUN PENAMPIAN (2)

 

Ayat Bacaan Hari ini: Matius 24:3-14

 

Ayat Hafalan: Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Matius 24:13

 

Tidak bisa disangkal kenyataan dunia dimana kita hidup hari ini bertambah semakin fasik. Fasik artinya manusia semakin tidak peduli dengan kehendak Tuhan, menganggap tidak terlalu penting berurusan dengan Tuhan setiap hari, tidak terlalu peduli bahwa perbuatannya sedang menyakiti hati Tuhan. Orang percaya harus memeriksa hidupnya secara jujur dan terbuka dihadapan Tuhan, apakah ciri hidup orang fasik ini masih melekat dan diperagakan didalam kehidupannya, jika masih, maka ia harus segera melakukan pertobatan dengan sungguh-sungguh dihadapan Tuhan sebab api kekal akan disimpan untuk penghakiman bagi hidup orang-orang fasik, dan alkitab mengatakan akhir hidup orang-orang fasik akan berakhir didalam penghukuman kengerian api kekal (2 Petrus 3:7).

 

Tidak peduli Tuhan di sini bukan berarti tidak bergereja, bisa saja mereka bergereja tetapi pada dasarnya mereka tidak peduli dan tidak menghormati Tuhan secara pantas. Kalau seseorang pergi ke gereja bukan berarti sudah peduli dan menghormati Tuhan secara pantas. Kepedulian terhadap Tuhan ditunjukkan dengan kesediaan hidup bagi Tuhan dan Kerajaan-Nya setiap hari. Hidup bagi Tuhan dan Kerajaan-Nya artinya hidup yang selalu ada dalam tuntunan dan penurutan terhadap kehendak Tuhan setiap waktu dan selalu ada didalam penghayatan terus menerus bahwa dirinya ada dalam pemerintahan Tuhan Yesus Kristus. Orang yang hidup bagi Tuhan dan kerajaan-Nya pasti akan melayani pekerjaan Tuhan tanpa batas. Oleh sebab itu ia harus peduli dan meresponi terhadap kehendak dan rencana Tuhan dalam hidup ini. Sebenarnya lebih dari segala kegiatan di lingkungan tembok gereja, yang Tuhan kehendaki adalah menjaga langkah hidup setiap hari untuk terus ada didalam perkenanan Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama baik di gereja maupun di luar tembok gereja.

 

Dari segala sesuatu yang kita pikirkan, ucapkan dan perbuat harus sesuai dengan keinginan Tuhan, tidak bertentangan dengan norma kesucian Tuhan. Segala sesuatu yang kita lakukan harus dihubungkan dengan Tuhan, yaitu apakah semuanya itu berkenan di hati-Nya? Membiasakan hidup dalam pemerintahan Tuhan ini tidak sederhana dan tidak mudah. Sebenarnya ini adalah proses menggarap batiniah seseorang, yaitu guna memiliki sikap hati yang benar di hadapan Tuhan. Pergumulan ini harus berlangsung secara pribadi dengan Tuhan setiap detiknya dan berusaha untuk selalu menyukakan hati-Nya. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah ketekunan. Ibrani 10:36 “Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu”. Kata ketekunan dalam teks aslinya adalah “hupomeno” yang juga berarti “bertahan” terus menerus dan tetap berdiri teguh. Ketekunan ini adalah ketekunan dalam mengerjakan keselamatan yang diberikan oleh Tuhan Yesus yang harus terus dihidupkan didalam kehidupan orang percaya sebab setiap hari peperangan melawan kuasa kegelapan akan berlangsung setiap saat didalam pikiran kita.

 

Peperangan melawan kuasa kegelapan yang terus berusaha merasuki pikiran bukanlah pergumulan yang ringan. Petrus sempat dimarahi oleh Tuhan Yesus karena ia tidak sadar bahwa pikirannya sudah lama dirasuki iblis sehingga ia mencoba mencegah Tuhan menjalankan misi pengorbanan diri-Nya mati diatas kayu salib guna sebagai penebus dosa bagi manusia (Matius 16:23). Bahkan Yudas iskariot juga tidak menyadari sudah lama terjadi pembiaran terhadap pikirannya dirasuki oleh iblis, pembiaran ini berakibat pikirannya menjadi rusak, hatinya menjadi gelap dan pada akhirnya ia menukarkan kesetiaannya hanya demi mendapatkan 30 keping perak. Olehnya Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa: “karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” (Efesus 6:12) Ayat ini menunjukkan pergumulan ini sebagai suatu perjuangan. Petrus menunjukkan bahwa pergumulan itu seperti menghadapi singa yang mengaum (1 Petrus 5:8-10). Sedikit sekali orang percaya yang mengalami kesadaran penuh dalam perjuangan ini. Hendaknya kita terus berjaga-jaga setiap saat terhadap tipu daya iblis yang siap menelan siapa saja yang didapatinya tidak dalam membangun hubungan yang harmonis dengan Tuhan lewat ketekunan dalam mengerjakan keselamatannya.

 

Perhatikan Matius 24:13, yang bertahan sampai akhir akan selamat. Bertahan juga berarti tetap kokoh di tengah pencobaan. Suasana dunia ini merupakan bentuk penampian yaitu pembuktian apakah seseorang layak disebut anak Allah atau tidak. Dunia akan digoncang dengan berbagai kesulitan hidup dari berbagai sektor (ekonomi, politik, keamanan, ekosistim bumi, kesehatan dan lain sebagainya). Goncangan yang sangat penting yang perlu selalu diwaspadai orang percaya adalah goncangan yang membuat hidupnya menjadi berlaku seperti orang fasik. Tanpa ketekunan seseorang pasti hanyut menjadi fasik seperti dunia.

 

Suasana dunia ini merupakan bentuk penampian yaitu pembuktian apakah seseorang layak disebut anak Allah yang setia atau sebaliknya. Orang yang bisa membuktikan bahwa ia tetap berlaku setia kepada Tuhan dan tetap berpegang teguh dan bertekun mengerjakan keselamatannya ditengah-tengah pengaruh kefasikan didalam dunia ini maka ia akan disertai Tuhan sampai pada kesudahan zaman hingga memperoleh mahkota kehidupan kekal.

 

Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan. (Wahyu 2:10b)

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *