Minggu, 28 November 2021

PRIBADI YANG MURAH HATI (7)

 

Ayat Bacaan Hari ini: 1 Raja-Raja 17:7-24

 

Ayat Hafalan: “Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu. 1 Raja-Raja 17:13

 

Kapan waktu yang paling tepat untuk mulai bermurah hati? Banyak orang yang menganggap dirinya belum sanggup untuk memberi karena masih merasa miskin. “Nantilah kalau saya sudah kaya.” kata teman saya dengan ringan ketika melihat seorang peminta-minta. Di sisi lain ada orang yang rajin memberi, tetapi mereka memberi karena mengharapkan sebuah balasan. Apakah agar proyeknya “gol”, demi suatu keperluan, karena menginginkan sesuatu, agar menang, terpilih dan lain-lain. Ada banyak motivasi di balik memberi, dan apa yang saya sebutkan di atas bukanlah hal memberi yang didasari oleh kemurahan hati. Itu adalah pemberian yang didasarkan pada sebuah tujuan untuk memperoleh sesuatu sebagai balasan atas apa yang dikeluarkan.

 

Alkitab banyak berbicara mengenai keikhlasan untuk memberi yang didasarkan kepada kemurahan hati, baik lewat firman-firman Tuhan maupun contoh-contoh dari berbagai tokoh. Coba lihat janda miskin di Sarfat dalam Perjanjian Lama yang memberi Elia makan dalam kekurangannya. Pada saat itu Elia tiba di Sarfat yang tengah mengalami kemarau panjang. Ia bertemu dengan seorang janda miskin. Ketika Elia meminta roti kepada sang janda, “perempuan itu menjawab: “Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.” (1 Raja Raja 17:12). Lihat bagaimana beratnya kehidupan ibu janda ini. Ia cuma punya segenggam tepung dan sedikit minyak serta dua tiga potong kayu api. Itupun masih harus dibagi dua dengan anaknya. Tetapi kemudian kita melihat bagaimana persediaan terakhirnya yang sangat sedikit itu rela ia berikan kepada Elia. Ia membuat roti untuk Elia dan membiarkan Elia menghabiskannya.

 

Namanya kemurahan hati, artinya kemurahan jelas merupakan sikap hati. Karena merupakan sebuah sikap hati, artinya itu tidak tergantung dari berapa jumlah harta yang kita miliki. Ketika kemurahan mewarnai sikap hati kita, kita akan rela memberi dengan sukacita tanpa peduli apapun keadaan kita saat ini. Mengapa kita harus memiliki sikap kemurahan ini? Karena Allah yang kita sembah adalah Bapa yang murah hati. Hal ini ditegaskan Yesus sendiri yang bisa kita baca di dalam Alkitab. “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” (Lukas 6:36). Murah hati adalah bagian dari kasih (1 Korintus 13:4). Dan kasih jelas merupakan sesuatu yang mutlak untuk dimiliki oleh orang-orang percaya. Kita harus malu ketika mengaku anak Tuhan tetapi tidak memiliki kasih, dimana salah satu bentuknya adalah keengganan atau beratnya dalam memberi. Tepat seperti apa yang dikatakan Yohanes, “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1 Yohanes 4:8). God is love. Mengaku mengenal Allah artinya kita mengenal kasih. Dan bagaimana kita berani mengaku mengerti akan artinya kasih apabila kita merasa rugi untuk memberi kepada mereka yang hidup berkekurangan?

 

Tuhan adalah kasih, dan Tuhan itu murah hati. Dia selalu memberi segala sesuatu yang terbaik bagi kita, bahkan anakNya yang tunggal pun Dia relakan untuk menebus kita semua dari jurang kebinasaan menuju keselamatan yang kekal. Lihatlah bagaimana sikap hati Allah sendiri sebagai Giver atau Pemberi. Hal seperti inilah yang harus mewarnai sikap hati kita sebagai orang percaya. Selamat menikmati hari Minggu, jemaat IMRA yang murah hati…

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *