Senin, 04 April 2022

MENJADI MANUSIA BARU DI DALAM TUHAN (1)

 

Ayat Bacaan Hari ini: Yehezkiel 36:25-28

 

Ayat Hafalan: Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. Yehezkiel 36:25

 

Manusia baru bukan berarti tubuh kita berubah menjadi baru. Tubuh kita tetap seperti sediakala, namun pola kata, pola pikir dan pola tindak kita mengalami perubahan. Kebaruan manusia itu terlihat dari apa yang keluar dari dalam dirinya kepada orang lain. Apakah yang keluar dari dalam dirinya menjadi berkat atau kutuk bagi orang lain.

 

Apakah ciri-ciri orang yang mengalami kebaruan hidup di dalam TUHAN?

 

Pertama, hidupnya mengalami pentahiran (ay. 25). 

Melalui proses penyadaran yang dialami oleh umat Israel selama masa pembuangan, hati mereka ditahirkan dan dibaharui. Pemurnian diri dan pemulihan hubungan dengan Tuhan hanya dapat terjadi karena kasih-karunia Allah. Itu sebabnya dalam ayat 25 Allah berfirman: “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu”. Disini jelas Allah bertindak sebagai subyek yang berinisiatif untuk mencurahkan air jernih yang fungsinya untuk mentahirkan dosa-dosa umat. Inisiatif Allah tersebut terjadi karena hanya Allah saja yang memiliki air jernih yang mampu membersihkan umat dari seluruh kenajisannya. Umat berperan sebagai penyambut dan penerima air jernih Allah. Dengan demikian air jernih yang digunakan dalam nubuat nabi Yehezkiel berfungsi sebagai simbolisasi pengampunan dan pengudusan Allah.

 

Tindakan Allah yang mentahirkan umat Israel akan menghasilkan kehidupan yang diperbarui, sebab Allah mengaruniakan hati yang baru dan roh yang baru. “Hati” dalam dunia Perjanjian Lama dipahami sebagai pusat atau inti dari kepribadian manusia. Karena itu apabila hati dan roh umat diperbarui oleh Allah, maka umat akan mengalami kelahiran baru, suatu kehidupan yang baru bersama dengan Tuhan. Manusia tidak lagi memusatkan diri pada misi pribadinya, melainkan misi Allah. Apapun yang dikerjakannya adalah semata-mata untuk kemuliaan Allah. Demikianlah kita sebagai umatNya, juga diundang untuk menyerahkan hidup kita dibimbing Roh-Nya yang kudus untuk misi yang baru dari Allah dalam hidup kita.

 

Kedua, hidupnya memiliki hati dan roh yang baru (ay. 26). 

Hati yang baru berbeda dengan hati yang lama. Hati yang lama adalah hati yang keras yang tidak mau dituntun oleh kebenaran Firman Tuhan, sedangkan hati yang baru adalah hati yang taat dan mau dibentuk oleh Tuhan sehingga kita mencapai tujuan Tuhan dalam hidup kita. Tuhan menciptakan kita dengan tujuan yang jelas. Oleh sebab itu, Tuhan ingin setiap kita mencapai tujuan yang Tuhan telah tetapkan. Suatu saat, ada waktunya Tuhan akan berkata kepada setiap kita apakah yang sudah kita lakukan di dunia ini? Sudahkah kita mencapai tujuan Tuhan dalam hidup kita? (Bersambung…)

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *