Rabu, 09 Maret 2022

MENGALAMI PEMURNIAN DARI TUHAN (3)

 

Ayat Bacaan Hari ini: Mazmur 66:1-20

 

Ayat Hafalan: Sebab Engkau telah menguji kami, ya Allah, telah memurnikan kami, seperti orang memurnikan perak. Mazmur 66:10

 

Semakin besar pemurnian Tuhan, semakin hati orang mampu mengasihi Tuhan. Siksaan dalam hati mereka bermanfaat bagi hidup mereka, mereka lebih mampu untuk berada dalam keadaan damai di hadapan Tuhan, hubungan mereka dengan Tuhan bertambah dekat, dan mereka lebih mampu melihat kasih Tuhan yang agung dan penyelamatan-Nya yang luar biasa.

 

Petrus mengalami pemurnian hingga belasan kali, dan Ayub menjalani sejumlah ujian. Jika anda ingin disempurnakan oleh Tuhan, anda pun harus mengalami pemurnian berulang kali; hanya jika anda melewati proses ini, anda akan dapat memuaskan kehendak Tuhan, dan dijadikan sempurna oleh Tuhan. Pemurnian merupakan cara terbaik yang Tuhan gunakan untuk menyempurnakan manusia; hanya pemurnian dan ujian pahit yang dapat memunculkan kasih sejati kepada Tuhan dalam hati manusia. Tanpa kesukaran, orang tidak memiliki kasih yang sejati kepada Tuhan; jika mereka tidak diuji di dalam batinnya, jika mereka tidak sungguh-sungguh mengalami pemurnian, hati mereka akan selalu mengembara entah ke mana.

 

Setelah dimurnikan hingga taraf tertentu, anda akan melihat kelemahan dan kesulitanmu sendiri, anda akan melihat seberapa banyak kekuranganmu dan bahwa anda tidak mampu mengatasi banyaknya masalah yang dihadapi, dan anda akan melihat betapa besarnya ketidaktaatanmu. Hanya selama ujianlah, orang mampu untuk benar-benar mengetahui keadaan mereka yang sesungguhnya; ujian menjadikan orang lebih mampu untuk disempurnakan.

 

Selama masa hidupnya, Petrus mengalami pemurnian berulang kali dan menjalani banyak cobaan berat yang menyakitkan. Pemurnian ini menjadi landasan kasihnya yang terdalam kepada Tuhan, dan merupakan pengalaman paling penting dalam seluruh hidupnya. Bahwa dia mampu memiliki kasih yang terdalam kepada Tuhan, dalam satu hal, adalah karena tekadnya untuk mengasihi Tuhan; tetapi, yang lebih penting adalah karena pemurnian dan penderitaan yang dia lalui. Penderitaan ini menjadi penuntunnya di jalan mengasihi Tuhan, dan merupakan hal yang paling berkesan baginya. Apabila orang tidak mengalami sakitnya pemurnian tatkala mengasihi Tuhan, kasih mereka sarat dengan ketidakmurnian dan pilihan-pilihan mereka sendiri; kasih seperti ini penuh dengan gagasan Iblis, dan pada dasarnya tidak dapat memuaskan kehendak Tuhan. Memiliki tekad untuk mengasihi Tuhan tidak sama dengan sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Meskipun semua yang mereka pikirkan dalam hati mereka adalah demi mengasihi dan memuaskan Tuhan, dan meskipun pikiran mereka tampak sepenuhnya mengabdi kepada Tuhan dan tanpa adanya gagasan manusia, tetapi ketika pikiran-pikiran mereka dibawa ke hadapan Tuhan, Dia tidak memuji ataupun memberkati pikiran-pikiran seperti itu. Bahkan sekalipun orang telah memahami seluruh kebenaran—ketika mereka telah mengetahui semuanya—ini tidak dapat dikatakan sebagai tanda bahwa mereka mengasihi Tuhan, tidak dapat dikatakan bahwa orang-orang ini benar-benar mengasihi Tuhan.

 

Meskipun telah memahami banyak kebenaran, tanpa menjalani pemurnian, orang tidak akan mampu menerapkan kebenaran-kebenaran ini; hanya selama pemurnianlah, orang dapat memahami makna sesungguhnya dari kebenaran-kebenaran ini, hanya setelah itulah, orang dapat dengan sungguh-sungguh menghargai maknanya yang sesungguhnya. Pada saat itu, tatkala mereka berusaha lagi, mereka mampu melakukan kebenaran dalam hidup mereka dengan tepat, dan sesuai dengan kehendak Tuhan; pada saat itu, gagasan-gagasan kemanusiaan mereka berkurang, kerusakan kemanusiaan mereka berkurang, dan emosi-emosi kemanusiaan mereka menurun; hanya pada saat itulah penerapan yang mereka lakukan menjadi perwujudan sejati kasih mereka kepada Tuhan.

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *