Jumat, 23 Pebruari 2024

IMAN DAN MUJIZAT ELIA (5)

 

Ayat Bacaan Hari ini: 1 Raja-raja 17:7-24

 

Ayat Hafalan: Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia. 1 Raja-Raja 17:16

 

Ayat renungan yang kita baca hari ini merupakan sebuah janji TUHAN kepada seorang janda di Sarfat. Dalam keterbatasan tepung dan minyak, janda itu punya potensi untuk menolak permintaan Elia. Itu manusiawi. Secara normatif dalam kondisi terbatas, bahkan kekurangan, kecenderungan orang pada umumnya adalah “cari aman”. Artinya mengutamakan diri sendiri (kebutuhannya terpenuhi dulu). Namun, tidak demikian halnya dengan perempuan janda di Sarfat. Dalam keterbatasan hidupnya, ia masih mau memberi respons positif. Inilah percakapan mereka, katanya: “Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum. Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti”. Perempuan itu menjawab: “Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikit pun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli, …kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati” (ay. 10-12).

 

Janda di Sarfat dalam keterbatasannya tetap menunjukkan kualitas diri, yaitu kemurahan hati. Setelah mendengar perkataan firman yang disampaikan Elia, tumbuh benih iman dalam diri janda tersebut, akhirnya ia melakukan apa yang diperintahkan yaitu memberikan roti kepada abdi Allah itu, sebagai pilihan berisiko namun mengandung harapan. Itulah kunci untuk mengalami mujizat Tuhan. Akhirnya, “… perempuan itu dan dia (Elia) serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia” (ay. 15-16).

 

Janda di Sarfat memberi pelajaran kepada kita bagaimana bersikap dan bertindak di masa pergumulan, terlebih dalam situasi yang krusial seperti pada saat merebaknya pandemi 19 beberapa tahun yang lalu. Ada beberapa pelajaran penting yang hendak kita petik dari pengalaman iman janda Sarfat ini, yakni:

 

Pertama, kuasa dan mujizat Allah selalu tersedia bagi orang percaya.

Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia (ay. 16). Keyakinan tentang kuasa dan Mujizat Allah menyebabkan setiap orang mempercayai bahwa selalu ada cara yang Tuhan dapat lakukan untuk memberikan pertolongan. Kehadiran Allah dalam hidup kita seharusnya memiliki arti yang sangat khusus, dan arti yang khusus itu seharusnya menuntun pengikut Kristus sampai kepada keyakinan tentang Dia yang tiada pernah kehilangan kemampuan untuk memberikan pertolongan.

 

Kedua, hidup harus berlanjut apapun situasinya.

“…tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api…” (1 Raj. 17:10). “Life must go on”, hidup harus terus berjalan, apapun situasinya. Janda ini sudah menakar seberapa banyak tepung di tempayan, buli-bulipun sudah dia goncang, tinggal sedikit, hanya tersisa untuk sekali makan. Namun apakah janda ini meratap di sudut ruangan, atau dia berteriak histeris prustasi dan depresi? Dengan ketabahan dia menyusuri jalananan, mengumpulkan kayu bakar di dekat gerbang kota. Namun di sanalah mujizat itu dimulai, perjumpaan dengan Elia merubah segalanya. Misalnya, pandemi covid 19 membawa kita kepada kata “penyesuaian” bahkan ada istilah “New Normal” yang menggambarkan bahwa ada kebiasaan, tata cara, perilaku dan sikap baru yang harus dijalani semua orang. Hidup kita harus terus bergulir.  Jaga jarak, cuci tangan, mengenakan masker (bahkan harus double masker), apakah itu harus menghentikan kita? Tidak!  Hidup kita harus terus berjalan. Pekerjaan, usaha, bersekolah, berkuliah, atau apapun namanya harus terus berjalan walau mungkin dengan irama yang lebih lambat namun teratur. Tuhan ada di setiap situasi, Ia hadir untuk menguatkan dan menopang.

(Bersambung…)

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *