Kamis, 22 Pebruari 2024

IMAN DAN MUJIZAT ELIA (4)

 

Ayat Bacaan Hari ini: 1 Raja-Raja 18:20-46

 

Ayat Hafalan: Pada ketujuh kalinya berkatalah bujang itu: “Wah, awan kecil sebesar telapak tangan timbul dari laut.” Lalu kata Elia: “Pergilah, katakan kepada Ahab: Pasang keretamu dan turunlah, jangan sampai engkau terhalang oleh hujan.” Maka dalam sekejap mata langit menjadi kelam oleh awan badai, lalu turunlah hujan yang lebat. Ahab naik kereta lalu pergi ke Yizreel. 1 Raja-Raja 18:44-45

 

(Sambungan…)

 

Kemarin kita belajar bahwa Elia menunjukkan tindakan imannya Elia berserah total kepada Allah dengan cara membungkuk dan berlutut di hadapan yang Maha Tinggi.  Elia sadar bahwa ia sangat membutuhkan campur tangan Allah supaya apa yang diimaninya itu benar-benar terjadi. Allah memang memiliki selera humor yang tinggi. Disaat Sang Nabi sudah menunjukkan keseriusan dalam tindakan iman, Allah tidak segera menjawab doa Elia.

 

Dengan penuh rasa Penasaran, Elia ingin mengecek bagaimanakah hasil dari perkataan dan perbuatan imannya. Ia menyuruh bujangnya untuk melihat ke laut dari atas gunung. Sungguh sayang, si bujang membawa berita yang sungguh muram, “tidak ada apa-apa.” Bagi sebagian orang, jawaban jenis ini tentu saja akan menghasilkan kekecewaan yang begitu sangat. Bagaimana tidak, Elia yang sudah berkata-kata dalam iman serta menunjukkan tindakan iman pun tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Tuhan. Tetapi Sang Nabi sama sekali tidak menunjukkan adanya sikap menyerah dalam menyatakan tindakan imannya kepada Tuhan.

 

Teks 1 Raja-raja mendiskripsikan bagaimana Elia terus menunjukkan perbuatan imannya kepada Allah: membungkuk, muka diantara dua lutut, menyuruh bujang mengecek, dan hasil yang juga mengecewakan. Elia melakukan siklus ini hingga tujuh kali. Penggunaan frase “tujuh kali” dalam teks ini membuktikan keseriusan Elia dalam meminta pertolongan kepada Allah. Sungguh, Elia menunjukkan tindakan iman berupa sikap yang pantang menyerah untuk meminta pertolongan Tuhan. Sudahkah kita membungkuk dan berlutut di hadapan Allah untuk menunjukkan penyerahan total kita kepada-Nya dengan tidak jemu-jemu? Sikap berserah total serta perendahan diri di hadapan Allah merupakan kunci dibukakannya pintu mujizat bagi kita.

 

  1. SELALU PERCAYA AKAN JAWABAN IMAN (Ay. 44-46)

Hidup dalam budaya iman dapat dikejawantahkan dengan tetap percaya bahwa Allah pasti memberikan jawaban yang terbaik atas apa yang kita imani. Telah dieksposisikan sebelumnya bahwa Elia telah mengucapkan perkataan iman dan menunjukkan tindakan yang radikal dari iman itu. Lalu bagaimanakah hasilnya? Ternyata jawaban iman yang diberikan oleh Allah bukanlah sesuatu yang spektakuler. Setelah siklus ketujuh, bujangnya melihat, “wah, awan kecil sebesar telapak tangan timbul dari laut.”

 

Sungguh, Allah kembali menunjukkan selera humornya tinggi kepada Elia. Sang Nabi membutuhkan awan gelap dan pekat untuk mengakhiri kekeringan di Israel Utara. Juga ia membutuhkan pembuktian yang jelas atas perkataannya kepada raja Ahab. Tetapi Allah hanya memberikan satu awan kecil sebesar telapak tangan saja. Jangankan hujan lebat, gerimis kecilpun juga tidak akan cukup dengan awan jenis itu. Bagi sebagian orang, Jawaban seperti ini juga dapat meruntuhkan imannya kepada Allah. Mereka sudah beriman dan berdoa cukup lama, tetapi Tuhan hanya menjawab dengan jawaban yang tidak sesuai harapan. Beberapa orang bahkan mungkin akan marah dengan jawaban yang seperti ini.

 

Skenario terburuknya, orang tersebut bisa meninggalkan Tuhan dan memendam kekecewaan yang sulit untuk diperdamaikan. Sebagai contoh, seseorang meminta kepada Tuhan untuk memiliki mobil yang akan digunakan untuk melayani. Tetapi di kemudian hari, Allah hanya memberikan sepeda motor sebagai jawaban doanya. Orang ini kemudian ngambek kepada Allah, memutuskan untuk tidak melayani-Nya lagi, serta tidak beriman lagi kepada Tuhan. Ini adalah contoh nyata dari kehidupan anak-anak Tuhan yang rapuh imannya. Sepertinya Elia bukanlah Nabi yang memiliki ciri seperti ini. Bagi Elia, awan kecil yang diijinkan Allah merupakan sebuah pijakan bagi suatu hal yang lebih besar yang akan dikerjakan-Nya. Elia tetap memperkatakan perkataan iman walaupun hanya awal kecil yang didapatnya. Ia berkata kepada bujangnya, “pergilah, katakanlah kepada Ahab,… jangan sampai engkau terhalang oleh hujan.”

 

Walaupun awannya kecil, Elia tetap percaya bahwa akan ada hujan dahsyat oleh karena penentuan Tuhan. Sebagai akibat dari iman yang tidak terputus ini, Allah menyatakan kuasa-Nya bagi Elia, “Maka dalam sekejap mata langit menjadi kelam oleh awan badai, lalu turunlah hujan yang lebat” (Ay. 45). Dari bagian ini kita belajar bahwa seringkali jawaban iman itu tidak instan. Allah seringkali juga mengijinkan munculnya jawaban kecil dari doa kita untuk menguji kualitas iman kita. Masihkah kita beriman penuh kepada Dia disaat Allah menguji iman kita? Sesungguhnya iman yang sejati itu terus teguh berharap kepada Tuhan di dalam kondisi apapun.

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *