Rabu, 21 Pebruari 2024

IMAN DAN MUJIZAT ELIA (3)

 

Ayat Bacaan Hari ini: 1 Raja-Raja 18:20-46

 

Ayat Hafalan: Lalu Ahab pergi untuk makan dan minum. Tetapi Elia naik ke puncak gunung Karmel, lalu ia membungkuk ke tanah, dengan mukanya di antara kedua lututnya. Setelah itu ia berkata kepada bujangnya: “Naiklah ke atas, lihatlah ke arah laut.” Bujang itu naik ke atas, ia melihat dan berkata: “Tidak ada apa-apa.” Kata Elia: “Pergilah sekali lagi.” Demikianlah sampai tujuh kali. 1 Raja-Raja 18:42-23

 

(Sambungan…)

 

Melanjutkan pelajaran mengenai kehidupan Elia kemarin, Elia adalah nabi yang dipakai Tuhan karena imannya. Salah satu hal yang luar biasa terjadi ketika Elia memperkatakan perkataan iman tentang turunnya hujan. Perkataan iman Elia nyata dalam perkataan yang diucapkannya sendiri, “pergilah, makanlah dan minumlah, sebab bunyi derau hujan sudah kedengaran.” Terdapat sebuah hal unik yang dikatakan Elia di sini. Secara historis, kehidupan Israel Utara sedang mengalami kekeringan dan kelaparan yang hebat. Tiga setengah tahun & 6 bulan, langit tidak menurunkan hujannya sama sekali. Ketika sang nabi ini berkata bahwa bunyi hujan sudah mulai kedengaran, sejatinya hujanpun belum turun dan kekeringan masih menjadi momok menakutkan bagi kehidupan umat.

 

Mengapa sang Nabi Begitu berani berkata bahwa ia telah mendegar derau hujan yang turun? Inilah yang disebut dengan perkataan iman. Secara fakta memang kekeringan dan kelaparan masih menghantui Israel Utara. Iman sang nabi lebih besar daripada data dan fakta tentang kekeringan yang maha dahsyat itu. Sang nabi secara profetik melihat ke depan bahwa ia sudah mulai mendengar bunyi hujan yang turun. Penggunaan kata dalam bentuk lampau (sudah kedengaran) sekali lagi menunjukkan bagaimana iman dan percayanya sang nabi kepada perbuatan hebat Allah yang sebentar lagi akan dilakukanNya.

 

Inilah perkataan Iman Elia bahwa sebentar lagi segala kekeringan di Israel Utara akan disudahi. Apakah perkataan ini merupakan statement yang tanpa resiko? Hal yang tidak terelakkan tentu akan dihadapi oleh sang nabi jika pernyataannya ini tidak terjadi. Elia mengungkapkan perkataan iman ini di hadapan Raja Ahab yang pada saat itu sedang menguasai seluruh Israel Utara. Jika perkataan ini tidak terjadi, Ahab bisa saja membunuh Elia karena telah memperkatakan perkataan yang palsu dan kosong. Sang Nabi pun sadar akan resiko besar ini. Ia tetap memilih bagian terbaik yang dapat dilakukannya. Sang Nabi tetap memperkatakan perkataan iman itu walaupun resiko besar menghantui. Seseorang yang hidup dalam budaya iman tidak akan pernah ragu untuk terus memperkatakan perkataan iman dalam kehidupannya. Bagi orang percaya, tetap melantunkan perkataan iman di tengah-tengah resiko yang besar merupakan bukti kuat bahwa kita hidup dalam budaya iman.

 

Sebuah pertanyaan reflektif bagi kita: sudahkah kita memperkatakan perkataan iman setiap hari? Terlalu banyak orang percaya yang terus pesimis dalam hidupnya ketika harus menghadapi ketidakpastian dunia. Belajar dari Elia, kita harus terus memperkatakan perkataan iman dalam kehidupan kita. Teruslah percaya bahwa Allah akan memelihara secara sempurna. Teruslah perkatakan perkataan iman sebagai bukti bahwa kita percaya penuh kepada-Nya!

 

2. SELALU MENUNJUKKAN TINDAKAN IMAN (Ay. 42-44).

Yakobus dalam kitabnya memberikan penekanan penting bahwa, “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Inilah kebenarannya bahwa iman yang sejati harus disertai perbuatan nyata yang sepadan dengan iman tersebut. Hal ini pun juga dilakukan oleh Nabi Elia dalam ayat 42-44 ini. Dia bukan hanya melakukan perkataan iman yang menunjukkan kualitas imannya di hadapan Allah, tetapi Elia juga melakukan tindakan yang sepadan dengan imannya itu. Sang nabi tidak hanya menunggu secara pasif untuk menantikan kegenapan perbuatan Allah. Sebaliknya, Nabi Elia dengan giat melakukan tindakan iman sampai Allah menunjukkan kuasa-Nya untuk menghentikan kekeringan yang terjadi di Israel Utara. Tindakan iman Elia digambarkan dengan begitu jelas oleh penulis Kitab Raja-raja bahwa ia, “naik ke puncak gunung Karmel, lalu membungkuk ke tanah dengan mukanya diantara kedua lututnya.” (ay. 42). Sungguh, inilah bentuk tindakan iman yang berkualitas yang ditunjukkan oleh Sang Nabi Allah. Elia menunjukkan sikap berserah total kepada Allah dengan cara membungkuk dan berlutut di hadapan yang Maha Tinggi.

 

Iman tanpa perbuatan hakekatnya adalah nol besar. Iman tanpa disertai kehidupan yang menghormati Tuhan sepenuhnya tidak akan memiliki dampak apapun dalam hidup ini. Elia mengajarkan lewat kehidupannya, bila anda beriman, anda perlu melengkapinya dengan kehidupan yang sepenuhnya menghormati dan berserah kepada Tuhan

(Bersambung…)

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *