Selasa, 20 Pebruari 2024

IMAN DAN MUJIZAT ELIA (2)

 

Ayat Bacaan Hari ini: 1 Raja-Raja 18:20-46

 

Ayat Hafalan: Kemudian berkatalah Elia kepada Ahab: “Pergilah, makanlah dan minumlah, sebab bunyi derau hujan sudah kedengaran.” 1 Raja-Raja 18:41

 

Badan Kesehatan dunia WHO memberikan data yang sangat miris bahwa setiap 40 detik seseorang di dunia ini melakukan tindakan bunuh diri. Penyebabnya tentu beraneka ragam mulai dari kondisi ekonomi, politik, bahkan keamanan yang tidak kunjung membaik. Jika pemikiran untuk bunuh diri juga terlintas dalam kehidupan kita, hal ini menandakan minimnya iman orang percaya kepada Yesus Kristus. Anak-anak Tuhan tipe ini terlalu khawatir dengan kehidupan dunia dan melupakan bahwa mereka harus hidup dalam terang iman kepada Allah. Iman ini seharusnya memegang peranan yang penting dalam kehidupan umat Tuhan di setiap waktu. Bahkan, anak-anak Tuhan diharuskan untuk hidup dalam budaya iman. Inilah yang menjadi pembeda sejati antara anak-anak Terang dengan anak-anak Gelap yang hidup di dunia ini.

 

Nabi Elia dapat menjadi tipe yang baik dari hamba Tuhan yang hidup dalam budaya iman. Ia hidup dalam kondisi yang sangat sulit. Di tengah segala kesulitan hidup yang menghimpitnya, hanya iman yang benarlah yang dapat melewatkannya dari segala kesulitan itu.

Merujuk kepada data-data dalam 1 Raja-raja, kesulitan hidup sang nabi dapat dideskripsikan: Pertama, ia hidup di jaman Ahab dan Izebel memerintah. Dua sejoli ini terkenal dengan pemerintahan yang begitu kejam dengan ciri khas pemerintahan bertangan besi. Segala hal yang tidak sesuai dengan keinginan mereka pasti akan dihabisinya.

Kedua, Elia melayani umat yang sebagian besar telah melakukan penyembahan berhala (1 Raj. 16:33). Elia melayani di masa yang sangat sulit dimana umat cenderung tidak percaya dan cenderung mengacuhkan pesan kenabiannya. Di sisi lain, umat Tuhan lebih memilih untuk membangkang kepada Allah dengan cara melakukan penyembahan berhala kepada allah-allah lain.

Ketiga, Bangsa Israel sedang mengalami kekeringan hebat (1 Raj. 17:14). Dari sudut pandang Teologi Perjanjian Lama, kekeringan ini merupakan cara Allah untuk mendisiplin umat-Nya supaya mereka berbalik dari dosa-dosa mereka. Akibat dari kekeringan ini, umat hidup dalam kemelaratan dan kelaparan hebat yang melanda seluruh negeri (1 Raj. 17:12).

Terakhir, Elia hidup dalam masa sulit dimana Ahab telah membunuh nabi-nabi kudus dari Tuhan. Hidup Elia sebagai Nabi Allah yang benar tidak luput dari ancaman pembunuhan ini. Sekali lagi, Elia hidup di jaman yang begitu kejam.

 

Uniknya, kehidupan Elia sama sekali tidak disetir oleh keadaan sekeliling yang tidak menguntungkan itu. Sang nabi membuktikan bahwa hidup dalam budaya iman merupakan cara yang tepat bagi orang-orang benar untuk terus survive. Kita harus meniru Elia dalam hal iman yang tidak pernah surut di tengah-tengah kondisi yang carut marut. Berkaca dari kehidupan Nabi Elia, apa yang dapat kita pelajari dari iman Elia ini?

 

1. SELALU MEMPERKATAKAN PERKATAAN IMAN (Ay. 41).

Hidup dalam budaya iman dapat dibuktikan dengan selalu memperkataan perkataan iman. Hal ini menuntut dihentikannya segala perkataan pesimis yang malah akan membuat pekerjaan dan karya Tuhan tidak terlihat dalam kehidupan kita. Sikap terus memperkatakan perkataan iman menunjukkan bahwa kita percaya kepada Allah yang Maha Kuasa dan mengeliminir segala kekuatiran dunia. Sebaliknya, ketiadaan perkataan iman akan membuat diri kita menjadi orang yang pesimis dan meragukan keberadaan dan penyertaan Tuhan dalam kehidupan kita. Nabi Elia mempraktekkan hal ini. Ia menunjukkan perkataan imannya di depan Ahab mengenai pekerjaan Tuhan yang akan dinyatakan untuk mengakhiri kekeringan di Israel Utara. Hal ini merupakan tugas Elia sebagai Nabi untuk memperingatkan kesalahan Ahab dan menunjukkan kedahsyatan kuasa Tuhan. Elia tidak boleh ragu sedikitpun akan Tuhan dan akan perbuatan ajaib-Nya yang pasti akan dinyatakan-Nya. Dan hal ini dibuktikan oleh Elia melalui perkataan dan kehidupannya. Itulah sebabnya Tuhan menyatakan mujizat melalui kehidupan Elia.

 

Masalah memang dating silih berganti, tapi anda tetap punya pilihan untuk selalu memperkatakan iman kepada Tuhan atau memperkatakan keluhan terus menerus. Mana yang anda pilih?

(Bersambung…)

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *