Jumat, 17 Juni 2022

ANUGRAH TUHAN ATAS KELUARGA KRISTEN (5)

 

Ayat Bacaan Hari ini: Roma 12:1-8

 

Ayat Hafalan: Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Roma 12:2

 

(Sambungan…)

 

Kekudusan adalah unsur kedua yang penting dalam pernikahan. Kata ‘kudus’ dalam bahasa Yunani adalah “hagios”, yang artinya dipisahkan atau dikhususkan hanya untuk Tuhan.

 

  • Kudus’ dalam Hidup Nikah

Artinya gaya hidup dan standar moral yang dijalani oleh setiap pasangan Kristen tidak sama dengan gaya hidup dunia ini. (Roma 12:2)

  • ‘Kudus’ dalam Pekerjaan
    Pekerjaan harus dilihat sebagai mandat yang Tuhan berikan guna dipakai untuk membangun Kerajaan Allah, bukan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Semua potensi dan karunia harus digunakan secara maksimal saat melakukan pekerjaan yang telah Tuhan percayakan.
  • ‘Kudus’ dalam Hobby
    Setiap orang memiliki hobby tetapi hobby tidak boleh mengalahkan hal-hal yang menjadi prioritas utama. Jika hal itu terjadi maka hobby sudah menjadi berhala. Hobby jangan sampai lebih penting dari kebersamaan dengan keluarga.
  • ‘Kudus’ dalam Keuangan
    Umat Tuhan tidak mungkin mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh dan pada waktu yang sama juga mencintai Mamon. Cinta pada Mamon menggeser cinta pada Tuhan.
    “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar” 1 Timotius 6:6.

 

Ibadah yang disertai rasa cukup, dapat mensyukuri semua pemberian Tuhan. Alkitab selanjutnya berkata:

“Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Ibrani 13:5

 

Semua fasilitas, uang dan materi lain adalah pemberian Tuhan untuk dikelola bagi kemuliaan-Nya. Kita bukanlah pemilik, tetapi hanya pengelola. Ketika kita berpikir bahwa uang berasal dari keringat dan air mata sendiri, maka kita akan memegangnya jauh lebih erat. Kita menjadi terikat dengan uang kita, dan uang itu sebenarnya menjadi tuan kita. Tetapi ketika kita melihat diri kita sebagai seorang pengelola dan mengakui uang sebagai berkat Allah – meskipun kita bekerja untuk mendapatkannya, hal itu akan mengubah posisi uang dalam hidup kita. Uang tidak lagi mengendalikan kita tapi hanya menjadi sebuah sarana.

 

Uang menjadi sesuatu yang kudus, bilamana tidak mengendalikan kehidupan pernikahan, tetapi Roh Kudus yang mengendalikan. Secara praktis, setiap berkat yang diterima selalu disyukuri dengan memberikan persembahan persepuluhan, persembahan syukur, ditabung, baru sisanya yang dipakai. Semua pemakaian uang harus tetap bermuara untuk membangun kerajaan Allah.

 

(Bersambung…)

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *