Minggu, 12 Desember 2021

ANUGERAH DARI TUHAN (7)

 

Ayat Bacaan Hari ini: Lukas 18:9-14

 

Ayat Hafalan: Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Lukas 18:14

 

Pohon ara di Israel dan sekitarnya, dikenal dengan umurnya yang sangat panjang, mampu beradaptasi dengan berbagai jenis tanah, bahkan bisa tumbuh dengan baik di tanah yang berbatu-batu. Pohon ini memang bisa dikatakan pohon berkat: melindungi dari panas terik, tempat bernyanyi dan berdoa, memberi buah bagi semua orang yang singgah di bawahnya, apapun identitasnya. Pohon ini dapat tumbuh secara liar, namun tetap menjadi berkat berteduh bagi banyak orang. Maka akan menjadi sangat aneh jika sebuah pohon ara berada di kebun anggur, dengan tanah yang subur, dirawat secara sinambung namun tidak menghasilkan apa-apa.

 

Hal ini bisa diartikan sebagai orang-orang yang tumbuh di lingkungan yang baik, dalam hidup berlimpah dengan anugerah (di kebun anggur), namun tidak juga menghasilkan buah (berkat-berkat Tuhan). Dietrich Bonhofer, seorang pendeta yang melayani pada zaman pembantaian orang-orang Yahudi oleh kelompok Nazi di Jerman berkata bahwa ada dua kecenderungan sikap manusia memandang anugerah Tuhan (waktu, kesempatan, berkat Tuhan). Yang pertama Cheap Grace, memandang bahwa anugerah Tuhan sebagai anugerah murahan. Orang Kristen yang demikian tidak mau bayar harga untuk mengikut Tuhan. Hidupnya sama dengan cara orang duniawi berpikir dan bertindak. Orang Kristen tanpa pertobatan dan buah yang nyata. Yang kedua Costly Grace, orang Kristen yang mau membayar harga demi mengikut Kristus. Mereka menyadari akan anugerah Tuhan yang sudah mereka terima lalu menyerahkan hidup dalam kekudusan, dalam kehendak Tuhan supaya hidup mereka menyenangkan hati-Nya dan menjadi saluran berkat kasih Tuhan.

 

Salah satu kebutuhan manusia yang mendasar adalah penghargaan. Kita senang dipuji dan mendapatkan penghargaan. Tak heran, banyak muncul piala, medali atau piagam penghargaan bagi mereka yang berprestasi atau berjasa. Dan memang tidak ada salahnya kita memperoleh penghargaan sebagai hasil dari kerja keras kita. Tanpa sadar hal ini juga merambah dunia rohani. Ada orang yang merasa kerohaniannya lebih baik daripada orang lain karena kesalehan hidupnya. Ia berpikir dirinya pasti masuk sorga karena rajin beribadah, melayani, dan memberikan persembahan kepada Tuhan. Ciri orang seperti ini adalah mudah menghakimi orang lain yang berdosa dan berpikir, saya bukan seperti dia, orang berdosa. Hal ini yang dikatakan orang Farisi terhadap pemungut cukai, “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini.” Lukas 18:11. Orang Farisi berpikir ia diselamatkan karena berpuasa dua kali seminggu dan memberikan sepersepuluh dari segala penghasilannya.

 

Apakah ada di antara kita yang berpikir demikian dan menganggap diri kita layak masuk surga karena kesalehan dan kebaikan kita? Jika ada di antara kita berpikir demikian, bertobatlah! Paulus dengan tegas menyatakan bahwa keselamatan kita bukan karena usaha atau pekerjaan kita, melainkan karena anugerah dan pemberian dari Allah. Tanpa anugerah Tuhan, kita tidak mungkin diselamatkan. Surga begitu mulia dan kudus. Tidak ada dosa di surga. Sedangkan kita, manusia yang masih berdosa dan lemah. Sekecil apa pun dosa kita, kita tidak layak masuk ke sorga karena dosa. Kita harus hidup tanpa dosa untuk masuk sorga yang kudus. Namun, apakah kita bisa hidup tanpa dosa? Tidak mungkin. Hanya karena anugerah Allah kita diampuni dan dihapuskan dari dosa, sehingga kita jadi kudus dan dapat masuk surga.

 

Mari pergunakan waktu hidup kita dengan bijak, jauhi kesia-siaan yang membuat hidup kita batu sandungan bagi orang lain. Dalam Yesaya 55: 4-5 dituliskan bahwa Tuhan telah menetapkan kita menjadi saksi bagi bangsa-bangsa. Kita akan memanggil bangsa yang tidak kita kenal, dan bangsa yang tidak mengenal kita akan berlari kepada kita oleh karena Tuhan Allah kita mengagungkan kita. Artinya kita diutus menjadi saksi bagi semua orang, apapun identitasnya. Jemaat Imra, siapkah kita menjadi saksi bagi-Nya, berbuah bagi-Nya?
Selamat menikmati anugerah Tuhan Yesus yang berlimpah, Happy Sunday!

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *