Rabu, 15 September 2021

TUHAN MENYUKAI KERENDAHAN HATI (3)

 

Ayat Bacaan Hari ini: 1 Samuel 15:1-35

 

Ayat Hafalan: Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. 1 Samuel 15:22

 

(Sambungan…)

 

Kerendahan hati adalah tidak membandingkan diri dengan orang lain.

 

Dalam suratnya kepada jemaat Korintus, Paulus menuliskan agar jangan membandingkan diri dengan orang lain untuk dapat memuji diri sendiri. Paulus berkata “Tentu saja kami tidak berani membandingkan atau menempatkan diri kami sederajat dengan orang-orang yang menganggap dirinya tinggi. Alangkah bodohnya mereka! Mereka membuat ukuran sendiri dan menilai diri sendiri dengan ukuran itu.” (2 Korintus 10:12).

Paulus mengingatkan agar jangan membandingkan diri dengan orang lain, atau mengukur diri kita pada tingkatan manusia, atau janganlah kita mengukur diri kita dengan orang lain agar kita memiliki alasan untuk memuji diri atau meninggikan diri terhadap orang lain. Jika kita ingin tahu dimana tingkat kerohanian diri kita, bandingkan diri kita dengan Yesus Kristus, itu akan membuat kita tetap rendah hati. Dan dengan demikian kita akan tetap rendah hati. Dan seperti yang Alkitab katakan “kerendahan hati mendahului kehormatan.” (Amsal 15:33)

 

Dalam Alkitab tidak sedikit tokoh Alkitab yang justru hancur karena kecongkakannya. Saul merupakan raja Israel yang baik pada awal masa kepemimpinannya. Ia memimpin pertempuran pertama dan memberikan segala kemulian bagi Allah. Akan tetapi, hal tersebut tidak berlangsung lama. Ketika Allah menyuruh Saul untuk menumpas seluruh bangsa Amalek beserta semua ternaknya, Saul melakukan apa yang dirinya kehendaki dan bukan kehendak Allah. Selain itu, Ia membangun suatu tugu peringatan untuk menghormati dirinya sendiri (1 Samuel 15:12) dan Ia tidak pernah menerima teguran dengan rendah hati (1 Samuel 15:30). Seharusnya sebagai orang percaya, kita menerima teguran yang ada dengan lapang dada dan juga sebagai bentuk refleksi diri atas kesalahan yang kita lakukan. Bukankah orang yang berhasil adalah orang yang mau menerima dan terus menerus memperbaiki diri?

 

Kesombongan membuat kita memusatkan kehidupan kita pada diri kita sendiri, dan bukan pada Allah. Hal ini membuat kita seakan-akan menjadi buta akan perkerjaan Allah dalam kehidupan kita. Pada kenyataannya, semakin kita merasa bahwa semua keberhasilan yang kita raih merupakan buah dari kehebatan kita maka kita akan meninggalkan Allah. Sebagai contoh, lihatlah para ilmuwan-ilmuwan hebat di dunia. Mereka merupakan kaum-kaum terpelajar yang hebat, tetapi karena kehebatan yang dimiliki, mereka tidak lagi merasa membutuhkan Allah bahkan memutuskan untuk menjadi atheis. Padahal segala sesuatu berasal dari Allah, dan ketika mereka mencapai puncak tertinggi dalam kehidupannya, mereka meninggalkan Allah. Seharusnya segala sesuatu yang kita peroleh, dikembalikan bagi hormat dan kemuliaan nama-Nya. Sebab Dialah yang layak untuk bertakhta di atas setiap pujian.

 

Allah ingin kita rendah hati, Ia ingin pula kita datang kepada-Nya dengan rendah hati, Ia ingin kita rendah hati terhadap orang lain dan Ia ingin kita tetap rendah hati dalam segala bidang kehidupan.

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *