Minggu, 11 Oktober 2020

TRANSFORMASI KARAKTER (11)

 

Ayat Bacaan Hari ini: 1 Korintus 10:1-33

 

Ayat Hafalan: “Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat.” 1 Korintus 10:33

 

Selama ini banyak orang masih bingung membedakan antara watak, karakter dan kepribadian. Ketiga kata tersebut digunakan dalam percakapan di berbagai kesempatan seakan-akan sama saja dan orang biasanya tidak mencoba untuk membedakannya. Berkenaan dengan usaha untuk mengubah diri menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah, penting untuk bisa memahami perbedaan antara watak, karakter dan kepribadian. Walaupun sulit untuk diuraikan secara sempurna, tetapi dengan pemahaman sejauh yang bisa dimengerti, maka akan memberikan bantuan yang berarti untuk dapat mengenal mengenai manusia. Pengenalan mengenai manusia ini sangat penting untuk membantu memahami proses pendewasaan rohani menjadi manusia yang dikehendaki oleh Allah.

 

Sesungguhnya, watak dan karakter pada dasarnya sama atau bersinonim. Keduanya dalam bahasa Inggris diterjemahkan “character”. Sedangkan kata kepribadian dalam bahasa Inggris diterjemahkan “personality”. Pada dasarnya kepribadian lebih menunjuk pada sifat dasar manusia. Inilah eksistensi khas dan unik yang dimiliki seseorang yang tidak ada duanya di jagad raya ini. Ciri dasar dari kepribadian ini sangat ditentukan oleh DNA masing-masing yang dibawa dari lahir. Ciri dasar kepribadian sangatlah sulit diubah atau mungkin tidak bisa diubah. Dalam psikologi, melalui pengujian dan pengalaman di bidangnya sejak zaman Hipokrates, telah dikemukakan teori mengenai tipe-tipe kepribadian, yaitu sanguinis, melankolis, koleris dan plegmatis.

 

Karakter mengekspresikan nurani melalui jiwa yang memuat pikiran, perasaan dan kehendak yang bersangkut paut dengan norma atau etika. Dalam hal ini, jiwa sesungguhnya digerakkan oleh nuraninya. Dengan demikian nuranilah yang menentukan kualitas karakternya. Kalau kualitas nuraninya baik maka karakternya baik, tetapi kalau kualitas nuraninya buruk maka karakternya juga buruk. Adapun kualitas nurani seseorang tergantung dari apa yang diterima melalui indera khususnya yang dilihat dan didengarnya, di mana jiwa menjadi jembatannya. Jiwalah yang menampung semua yang dilihat dengan mata dan didengar melalui telinga. Kalau masukannya baik, maka baiklah keadaan nuraninya, tetapi kalau tidak, maka keadaannya menjadi sebaliknya. Itulah yang membentuk atau membangun karakter seseorang. Jadi, karakter sangat dipengaruhi oleh lingkungan, bisa berubah secara bertahap seiring dengan proses yang terjadi berdasarkan pengaruh yang masuk melalui mata dan telinga yang adalah jendela jiwa. Pada dasarnya karakter menunjuk kualitas nuraninya.

 

Dalam 1 Korintus 10:33 terdapat kata “ethos” yang sejajar dengan karakter. Dalam teks Alkitab versi King James tertulis “evil communications corrupt good manners; Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik”. Kata kebiasaan dalam teks Bahasa Indonesia terjemahan dari kata ethos. Dalam bahasa Inggris diterjemahkan manners. Sejatinya kata ini bisa disejajarkan dengan kata karakter. Dengan demikian ayat tersebut bisa diterjemahkan: Pergaulan yang buruk bisa merusakkan karakter yang baik.

 

Pergaulan yang buruk bisa merubuhkan bangunan karakter yang seharusnya terbangun sesuai rancangan Tuhan. Dengan demikian jelas sekali bahwa karakter seseorang ditentukan apa yang diterima jiwanya melalui pergaulan hidup setiap hari. Karakter seseorang adalah peta dari lingkungan dan segala pengalaman hidup yang telah dilaluinya. Dalam hal ini kita mengerti betapa besar peranan pergaulan dalam membentuk karakter seseorang. Oleh sebab itu orang percaya harus bergaul dengan Tuhan dan menjauhi persekutuan dengan orang yang tidak takut Tuhan. Karakter seseorang terbentuk sebagai karakter Kristus kalau memiliki Roh Kristus.

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *