Jumat, 04 Desember 2020

TRANSFORMASI DI DALAM PUJIAN PENYEMBAHAN (4)

 

Ayat Bacaan Hari ini: Mazmur 95:1-11

 

Ayat Hafalan: “Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya!” Mazmur 95:7

 

( Sambungan… )

 

3. Undangan untuk Mendengarkan (ayat 7b-11)

 

Kemeriahan sorak-sorai dari puji-pujian dan kekhusyukan penyembahan tiba-tiba berganti dengan peringatan yang keras di ayat 7b-11. Dibandingkan dengan ayat-ayat sebelumnya kita melihat di sini sebuah perubahan yang dramatis. Seakan-akan ini adalah antiklimaks. Ada juga perubahan dari siapa yang berbicara. Di tujuh ayat pertama pemazmur yang berbicara. Sekarang Tuhan sendiri. Tuhan memperingatkan umatNya terhadap bahaya dari hati yang keras. Inti pesannya di sini adalah: “Adalah baik menaikan pujian kepada Allah (bersorak). Adalah baik menyembah Allah (berlutut). Tetapi apa yang Tuhan sungguh inginkan dari kita adalah mendengarkan suaraNya. Tuhan lebih memilih agar kita ‘mendengarkan dan mentaati’ daripada  ‘membawa persembahan dan menyanyikan pujian’ “.

 

Tuhan mengajar umatNya melalui sejarah mereka di masa lalu. Peristiwa di Masa dan Meriba dapat kita baca di Keluaran 17. Tuhan sudah membebaskan Israel dari perbudakan di Mesir dan memimpin mereka melewati Laut Merah (Teberau). Mereka menyanyikan nyanyian pujian kepada Allah (Keluaran 15). Mereka begitu gembira bersama Tuhan. Namun kemudian di perjalanan melalui padang gurun mereka bersungut-sungut di Mara. Mereka marah kepada Musa dan ingin melempari Musa dengan batu. Tuhan menyuruh Musa memukulkan tongkatnya ke sebuah gunung batu. Ketika Musa melakukannya keluarlah air dan umat Israel bisa minum. Tempat itu dinamakan Masa dan Meriba (Keluaran 17:7). Masa berarti ‘mencobai’. Meriba berarti ‘menyalahkan’. Umat Israel telah mencobai Tuhan dan menyalahkan Musa.

Walaupun pernah mengalami kejadian ini, umat Tuhan tidak belajar dari sejarah mereka. Peristiwa di Masa dan Meriba terulang lagi 40 tahun kemudian (Bilangan 20:13) ketika orang Israel hampir masuk tanah perjanjian.

 

Mazmur 95 mengajarkan kita apa yang Tuhan Allah inginkan dari ibadah gerejawi kita: pujian kita kepada Allah dan penyembahan kita kepada Allah. Kita memuji Allah karena Ia adalah Pencipta kita. Kita menyembah Allah karena Ia adalah Gembala dan Juru Selamat kita. Namun Tuhan tidak hanya ingin pujian dan penyembahan kita. Tuhan ingin kita mendengarkan suaraNya dan mentaatiNya. Tuhan ingin agar kita bertekun dalam pujian dan penyembahan di dalam ibadah. Apa kebalikan dari “bertekun”? “Tidak melakukan dari hati”. Kita harus menjaga ibadah gerejawi kita terhadap ‘bahaya’ otomatisme dan rutinitas. Kalau ibadah dijalankan tanpa kesadaran, tanpa mengetahui apa yang kita lakukan dan mengapa. Jika kita di gereja memuji, menyembah, dan mendengarkan Tuhan maka Tuhan bertanya kepada kita: ‘Di manakah hatimu? Apakah hatimu ada padaKu atau ada di tempat lain?’

 

Salah satu cara yang baik untuk sungguh-sungguh ‘sadar/menghayati’ di dalam ibadah adalah dengan mempersiapkan diri dan aktif berpartisipasi di dalam ibadah. Misalnya bawalah Alkitab ke gereja. Bacalah dari Alkitab anda sendiri. Kalau saudara bernyanyi, perhatikanlah apa yang saudara nyanyikan. Biarlah teks lagu itu berbicara kepada saudara. Bernyanyilah dari hati. Ketika Firman Tuhan diberitakan, saudara dapat aktif berpartisipasi dengan berefleksi: ‘Ya Tuhan, apakah yang Engkau ingin katakan kepada saya?’ Rasul Paulus pada akhirnya mengingatkan kita di Roma 12:1 bahwa ibadah kita tidaklah terbatas pada ibadah minggu di gereja, tetapi di dalam hidup kita tiap hari. ‘Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati’.

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *