Kamis, 03 Desember 2020

TRANSFORMASI DI DALAM PUJIAN PENYEMBAHAN (3)

 

Ayat Bacaan Hari ini: Mazmur 95:1-11

 

Ayat Hafalan: “Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.” Mazmur 95:6

 

( Sambungan… )

 

2. Undangan untuk Berlutut (Penyembahan) (Ayat 6-7a)

 

Ayat 6-7a memperlihatkan undangan yang kedua di dalam ibadah: seruan untuk berlutut (menyembah Allah).

‘6 Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita’.

Kita dipanggil di sini untuk beralih dari pujian ke penyembahan. Di ayat 1 dan 2 kita boleh berdiri di hadirat Allah, menaikkan puji-pujian kita. Sekarang di ayat 6 kita sujud menyembah. Kita berlutut di hadapan Tuhan. Fokus dari pemazmur juga berubah. Tidak lagi berbicara tentang Tuhan sebagai Pencipta, tetapi Tuhan sebagai Gembala dan Juru Selamat. 7 Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya.

 

Tuhan adalah Gembala yang penuh kasih yang memperhatikan kita semua. Mengetahui hal ini kita sujud menyembah dan berlutut di hadapan Tuhan, Allah kita. Kita merendahkan diri di hadiratNya. Dengan menyembah dan berlutut kita menempatkan diri kita lebih rendah dari Allah. Inilah esensi dari penyembahan. Kita menerima tempat kita di hadapan Allah seraya mengakui tempatNya bagi kita.

 

Apakah saudara memperhatikan hal berikut. Seruan untuk bersorak didasarkan pada kedaulatan Tuhan sebagai Pencipta. Seruan untuk berlutut didasarkan pada relasi kita dengan Tuhan. Semakin dalam relasi kita dengan Tuhan, semakin dalam rasa hormat kita kepadaNya. Kalau orang tidak menghormati Tuhan, itu karena tidak ada keintiman dengan Tuhan.

 

Dari Mazmur ini kita melihat kedua aspek yang harus ada dalam ibadah kita: bersorak dan berlutut. Gembira dan hormat. Sukacita dan takjub.

 

Kira-kira sepuluh tahun yang lalu ada iklan yang terkenal. Di dalam iklan televisi itu ada beberapa anak sedang membanggakan ayah mereka. Yang satu berkata bahwa ayahnya adalah pengacara. Tentu saja anak-anak yang lain berusaha untuk ‘mengalahkan’ anak itu dengan membanggakan ayah mereka. Yang satu berkata bahwa ayahnya ahli bedah. Yang lain berkata bahwa ayahnya direktur bank. Demikianlah terus mereka berusaha untuk saling melampaui satu dengan yang lain. Tiba-tiba ada seorang anak yang pemalu berkata perlahan: “Ayah saya bekerja di McDonald’s”. Semua anak yang ada di situ menjadi terdiam. Rupanya mereka semua iri dengan anak ini. Mereka pikir karena ayahnya bekerja di McDonald’s anak itu bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan anak-anak lain: tiap hari ke McDonald’s. Tentu saja ini membuat anak itu begitu bangga dengan ayahnya.

 

Kalau saya ingat reklame itu, saya bertanya-tanya: Apakah kita bangga sebagai anak-anak Tuhan?Apakah kita bangga dengan Bapa Surgawi kita? Apakah kita sungguh merasakan suatu hak istimewa dan suatu anugerah kalau kita tiap kali boleh datang ke Rumah Tuhan di dalam ibadah minggu? (Bersambung…)

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *