Senin, 07 Juni 2021

ROH MANUSIA (1)

 

Ayat Bacaan Hari ini: Ayub 32:1-22

 

Ayat Hafalan: Tetapi roh yang di dalam manusia, dan nafas Yang Mahakuasa, itulah yang memberi kepadanya pengertian. Ayub 32:8

 

Keindahan seorang Kristen harus keluar dari bagian yang terdalam. Maka tak seharusnya kita bermegah dengan apa yang dilihat lebih dari apa yang di dalam hati.  Yesus berkata pada kita, “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.” (Yohanes 7:24).

 

Roh kita merupakan bagian terpenting dari diri kita karena roh kita adalah manusia yang sebenarnya di dalam kita. Karena Allah adalah Roh, kita juga makhluk roh. Mengapa? Karena kita diciptakan menurut gambar dan citra Allah  (Kejadian 1:26). Kita adalah roh yang memiliki jiwa, dan kita hidup dalam tubuh jasmani yang dapat dilihat dan dijamah. Roh, jiwa, dan tubuh harus dijaga tidak bercacat cela seperti yang dikatakan ayat Alkitab: “…semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.”  (1 Tesalonika 5:23).

 

Karena mungkin bagi kita untuk mengembangkan tubuh kita, maka juga tidak mustahil untuk mengembangkan pikiran sekaligus roh kita. Pikiran adalah bagian dari jiwa kita. Satu-satunya cara untuk mengembangkan roh kita adalah dengan Firman Allah. Tuhan Yesus berkata, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4). Dapat dipahami bahwa manusia tidak dapat berkembang secara fisik tanpa makan, maka orang juga tidak dapat berkembang rohnya tanpa makanan rohani.  Dalam hal ini makanan rohani adalah Firman Allah.

 

Sesungguhnya ada kelaparan secara rohani dalam hati setiap manusia di dunia. Kelaparan rohani di dalam diri setiap manusia di dunia adalah untuk didamaikan dengan Sang Pencipta – Allah – dan bersekutu dengan Dia. Tetapi manusia tidak menyadari bahwa kelaparan di hatinya adalah untuk memiliki persekutuan yang baik dengan Tuhan.  Seringkali kelaparan hati tersebut mendorongnya pada hal-hal duniawi yang buruk untuk memuaskan ‘jeritan hati’ di dalam dirinya.

 

Kelaparan akan kasih Allah tidak bisa dipuaskan dengan keduniawian dan hal-hal materi.

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *