Jumat, 16 Juli 2021

REVIVAL IN JOY: HATI YANG GEMBIRA (5)

 

Ayat Bacaan Hari ini: Amsal 17:1-28

 

Ayat Hafalan: Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang. Amsal 17:22

 

Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, manusia kehilangan sukacita dan kebahagiaan yang sejati. Mungkinkah anak Tuhan bisa kehilangan sukacita dan kebahagiaan untuk sementara waktu di dalam hidupnya? Mungkin. Mengapa itu bisa terjadi?

 

Pertama, karena kita mengalami ketakutan tanpa iman. Ketika kapal para murid menghadapi angin sakal, mereka seperti mau mati saja (Matius 14:24). Mereka saat itu kehilangan sukacita dan kebahagiaan. Mereka merasa kacau ketika berada di tengah lautan dan mereka merasa terguncang. Di sini kita melihat bahwa ketakutan tanpa iman dapat merebut sukacita kita karena kita tidak mendemonstrasikan kuasa Allah atas alam yang mengatasi segala ketakutan. Jadi terkadang orang-orang mengalami masalah mental salah satunya karena iman tidak memimpin ketakutannya. Ada pemuda yang sungguh malang karena mengalami tuli saraf. Sejak ia masih di kelas 2 SMA, tanda-tanda gangguan telinga itu sudah muncul. Ketika ia duduk di bangku kuliah, ia sudah hampir tidak bisa mendengar. Oleh karena itu ia harus memakai alat yang mahal di telinganya seharga 64 juta Rupiah. Jadi ia harus membayar mahal untuk bisa mendengar. Untuk berkomunikasi dengannya seringkali orang-orang harus menggunakan tulisan. Ia sungguh takut ketika melihat orang mati. Ia juga memiliki banyak ketakutan lain di dalam hidupnya. Di dalam bagian ini ia harus mengerti bagaimana menghadapi segala ketakutan di dalam hidupnya. Oleh karen itu ia harus membaca Alkitab. Di sanalah terdapat sumber kekuatan iman kita. Iman itu bertumbuh karena mendengar Firman Tuhan (Roma 10:17). Ia juga harus rajin bersekutu dengan Tuhan. Semua ketakutan itu berasal dari Setan. Tuhan sudah menebusnya dan Tuhan sudah memprogram hidupnya untuk mengalami damai sejahtera dan sukacita. Setiap suara yang memperkuat ketakutannya yang tidak suci sebenarnya berasal dari Setan. Jadi ia harus rajin beribadah kepada Tuhan. Terkadang kita pun bisa masuk ke dalam situasi-situasi tertentu dan mengalami ketakutan tanpa iman sampai kita tidak lagi memiliki sukacita. Amsal mengatakan: Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang (Amsal 17:22). Terkadang ketika kita semakin bertambah usia, kita semakin kehilangan sukacita. Mungkin ini karena tubuh kita semakin menjadi lemah dan menjadi mudah sakit ketika kita menjadi semakin tua. Kita harus memiliki hati yang gembira di dalam Tuhan supaya segala ketakutan kita dikalahkan serta kita lebih melihat kepada Tuhan yang besar atas hidup kita.

 

Kedua, kita kehilangan sukacita dalam hidup karena kita mengalami kekhawatiran tanpa iman. Terkadang sesuatu yang tidak perlu dikhawatirkan kita jadikan bahan kekhawatiran kita misalnya persoalan makanan, minuman, dan masa depan kita. Tuhan mengajarkan kita untuk memandang pemeliharaan Allah atas burung dan bunga bakung (Matius 6:26, 28). Apa solusinya menurut Tuhan? Matius 6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Apa yang ditambahkan ketika kita mengutamakan Kerajaan Allah? Tuhan akan menambahkan iman dan hikmat kita. Terkadang kita bisa mengalami kekhawatiran yang berlebihan. Jika kita membiarkan semua itu, maka kita bisa mengalami anxiety disorder yaitu kecemasan yang berlebihan. Banyak orang pada zaman ini merasa cemas bahkan bunuh diri karena foto di media sosialnya kurang disukai. Jadi ada orang-orang di zaman ini yang mengalami krisis pujian. Ini karena mereka tidak memiliki komunitas. Terkadang kita mengalami kekhawatiran yang berlebihan sampai kita tidak percaya bahwa Tuhan adalah Gembala Agung kita. Maka dari itu kekhawatiran tanpa iman bisa mendatangkan dosa dan menjadi dosa. Ada orang-orang yang tidak khawatir sama sekali akan hidupnya bahkan untuk hal-hal yang penting. Mereka sebenarnya sedang mengalami kepercayaan diri yang berlebihan. Setiap kita mungkin pernah mengalami kekhawatiran tanpa iman yang membuat kita kehilangan sukacita. Kita mungkin pernah berada dalam situasi yang begitu menjepit kita di mana kita tidak bisa lagi tersenyum. Terkadang apa yang kita harapkan tidak tercapai sehingga kita kehilangan sukacita. Di dalam hal ini kita membutuhkan hikmat Tuhan. ( Bersambung…)

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *