Rabu, 21 Juli 2021

REVIVAL IN JOY: BERSUKACITALAH SENANTIASA

 

Ayat Bacaan Hari ini: Amsal 15:1-33

 

Ayat Hafalan: Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat. Amsal 15:13

 

BAGAIMANA supaya bisa MENDAPAT SUKACITA DARI TUHAN:

 

  • Jangan jauh dari sumbernya. Haruslah selalu dekat dengan sumber sukacita itu: Tuhan. Kekristenan bukan cuma ditentukan di hari Minggu, tetapi apakah kita intim setiap hari Tuhan. Sukacita yang diberikan Tuhan itu beda dengan yang dari dunia dan tidak bisa tergantikan oleh apa pun. Kalau kita bisa mendapat sukacita dan ada yang bisa menggantikan sukacita yang dari Tuhan, kita sebenarnya tertipu. Karena tidak pernah ada sukacita sejati yang di luar Tuhan dan hadirat-Nya (lih. Mzm. 84:10).

 

  • Jalani hidup yang berdampak. Banyak orang hidup hanya untuk diri sendiri, jika seperti itu, tidak akan punya sukacita. Tuhan tidak pernah menginginkan kita hidup hanya bagi diri sendiri. Ketika kita membantu dan berbagi hidup dengan orang lain, apalagi membawa mereka kepada Tuhan, sukacita dalam diri kita tidak akan bisa terbayar oleh uang sebesar apa pun sebab sukacita itu berasal dari Dia. Pikir jadi berkat & dampak.

 

MANFAAT MEMILIKI SUKACITA yang dari TUHAN:

 

  • Menyehatkan kita (Ams. 15:13). Orang yang tidak mau bersukacita, tidak punya semangat hidup.
  • Memampukan kita melewati persoalan dengan penuh kemenangan. Tak hanya bertahan di tengah persoalan. Akan sulit bagi kita menghadapi persolan apabila terus-menerus mengeluh.

 

Banyak orang berpendapat bahwa sumber sukacita dalam diri seseorang berasal dari materi dan situasi yang mendukung.  Tetapi jika kita mendasari sukacita pada kondisi dan situasi maka sukacita yang kita rasakan tidak akan bertahan lama, alias hanya sementara.

 

Berbeda sekali jika kita menjadikan Tuhan sebagai sumber sukacita, di mana sukacita yang kita rasakan akan bersifat permanen karena sukacita dari Tuhan adalah sukacita di segala situasi, tidak dipengaruhi keadaan, tapi dikerjakan oleh Roh Kudus yang bekerja di dalam kita.  Sukacita inilah yang dirasakan nabi Habakuk: “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” (Habakuk 3:17-18). Bila melihat fakta atau situasi yang terjadi habakuk punya alasan bersedih, meratap dan putus asa, tapi ia tetap mampu bersukacita “…sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!” (Nehemia 8:11b).

 

Kehendak Tuhan bagi orang percaya adalah bersukacita senantiasa. Bukan saja dalam waktu enak dan senang saja, tetapi juga dalam waktu yang sulit dan susah sekalipun. Berada dalam penjara dengan kaki terpasung bukan alasan bagi Paulus dan Silas untuk tidak bersukacita, bahkan di tengah malam keduanya menyanyikan pujian bagi Tuhan  (baca Kisah 16:25). Bagi orang percaya tidaklah sulit bersukacita di tengah masalah dan penderitaan karena Roh Kudus ada di dalam diri kita. Sukacita dari Tuhan itulah kekuatan kita. Jika Saudara mengalami masalah berat jangan tawar hati. “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.” (Amsal 24:10). Bagaimana agar dapat bersukacita di segala situasi? Milikilah persekutuan karib dengan Tuhan senantiasa, “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” (Roma 14:17).

 

Ketika kita mampu bersukacita di segala situasi, kita akan menjadi kesaksian yang baik bagi orang lain.

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *