Kamis, 09 September 2021

PRIBADI YANG RENDAH HATI (4)

 

Ayat Bacaan Hari ini: 1 Petrus 3:8-12

 

Ayat Hafalan: Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati, 1 Petrus 3:8

 

Didunia ini rasanya semakin sulit menemukan kerendahan hati. Sikap egosentris, didukung oleh perkembangan teknologi, semakin memudahkan orang untuk menyombongkan diri. Melalui media sosial, misalnya. Ada orang yang sengaja mengunggah foto, video, atau status tertentu hanya untuk mencari pujian dan komentar.

Firman Tuhan menekankan pentingnya kerendahan hati. Kita diajar untuk menyadari bahwa untuk menjadi berguna dan berbuah kita harus mengandalkan Tuhan. Setiap umat diajak untuk meneladani Kristus yang mengosongkan diri, melepaskan identitas dan hak istimewa-Nya.

 

Melihat ancaman yang berpotensi mengoyak kesatuan jemaat Filipi, Rasul Paulus memberikan nasihat tentang kerendahan hati. Dalam terjemahan Bahasa Indonesia yang disederhanakan bunyinya, “Janganlah berbuat sesuatu hanya untuk menyenangkan diri sendiri, atau supaya orang lain menganggap kalian hebat. Sebaliknya, kalian harus bersikap rendah hati satu sama lain dan selalu menganggap orang lain lebih baik daripada kalian sendiri.” Di dalam Kristus sikap egosentris tidak mendapat tempat. Sebaliknya, umat harus rela saling menasihati, saling menghibur, bersekutu dalam Roh, mengobarkan kasih, dan menempatkan orang lain di atas diri sendiri.

 

Kerendahan hati itu seperti pohon yang merunduk karena sarat dengan buah yang masak. Buah itu adalah kebijaksanaan, pengetahuan, dan pemahaman yang mendalam. Sebaliknya, pohon yang tak berbuah, kering, dan meranggas mengangkat dirinya tinggi-tinggi dengan omong kosong dan kesombongan. Manusia boleh meninggikan dan membanggakan kuasanya sendiri, tetapi dalam sekejap saja Allah dapat menurunkannya ke bawah nol. Setanlah yang memimpin manusia untuk meninggikan dirinya sendiri dengan talenta yang dipercayakan kepadanya. Setiap orang, yang melalui mereka Allah bekerja, akan mengetahui bahwa Allah yang selalu ada dan selalu bekerja adalah maha agung, yang telah meminjamkan talenta-talenta untuk digunakan —dan kemampuan untuk mengadakannya; sebuah hati menjadi tahtanya, kasih-sayang mengalirkan berkat kepada semua orang yang akan dihubunginya; sebuah hati nurani yang menjadi saluran Roh Kudus untuk meyakinkan orang itu darihal dosa, dan dari hal kebenaran serta pehukuman.

 

Kesombongan, sifat tidak tahu, dan kebodohan biasanya adalah sejalan. Tuhan tidak menghendaki akan kesombongan yang terdapat di antara orang yang mengaku umatNya. Orang-orang tua, . . . lebih mudahlah bagimu mengajarkan pelajaran kesombongan dari pada pelajaran kerendahan hati kepada anak-anakmu. Sebelum kehormatan diperoleh haruslah dimliki kerendahan hati. Untuk mengisi suatu tempat yang tinggi di hadapan manusia, Sorga memilih pekerja yang . . . . mengambil tempat yang rendah di hadapan Allah. Murid yang paling sederhana adalah pekerja yang paling mantap dalam pekerjaan bagi Allah. Makhluk-makhluk yang cerdas dapat bekerja sama dengan dia yang sedang berusaha, bukannya untuk meninggikan dirinya, melainkan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Dari hubungan dengan Kristus ia akan keluar untuk bekerja bagi mereka yang sedang binasa dalam dosa. la diurapi untuk tugas ini, dan ia berhasil di tempat banyak orang terpelajar den cerdik cendekiawan gagal. . . .

 

Kesederhanaan, sifat melupakan diri sendiri, serta kasih seorang anak kecil yang penuh kepercayaan adalah sifat-sifat yang dihargai Sorga. Inilah ciri-ciri kebesaran sejati. Salomo tidak akan pernah menjadi sangat kaya, sangat bijaksana atau sangat besar kalau ia tidak mengaku, “Aku masih sangat muda dan belum berpengalaman.”

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *