Selasa, 14 Juli 2020

PERKATAAN YANG MEMBANGUN (2)

Ayat Bacaan Hari ini: Yakobus 1:19-27

Ayat Hafalan : Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.” Yakobus 1:26

Setiap ibadah selalu tidak lepas dari ungkapan atau kata-kata religius dalam bentuk nyanyian, doa, pembacaan Firman Tuhan dan khotbah serta persembahan syukur. Semua rangkaian dan ungkapan perkataan religius dalam suatu ibadah selalu terpilih dan terseleksi. Semua ungkapan tersebut lahir dari refleksi iman dalam konteks perjumpaan dengan Allah yang hidup. Karena itu ungkapan atau pernyataan dalam ibadah umumnya mengandung kedalaman makna dan nilai-nilai pengajaran iman yang bersifat kekal. Demikian pula seharusnya sikap hidup umat percaya setiap hari. Perkataan dan pemikiran umat percaya seharusnya selalu mengandung kedalaman makna sebagai ibadah kita kepada Tuhan sehingga menghasilkan pola hidup yang membangun dalam relasi dan perilakunya dengan sesama.

Sebab yang muncul dalam bentuk perilaku dan ucapan pada hakikatnya merupakan wujud dari sikap batiniah manusia. Sehingga semakin dalam kualitas iman seseorang, maka semakin efektif dan membangun pula ucapan dan tindakan yang dilakukannya. Sebaliknya semakin dangkal kualitas iman seseorang, maka semakin rapuh dan tidak terkontrol pula seluruh tindakan atau ucapan-ucapannya. Jadi nilai kedalaman iman bukan hanya dinyatakan saat seseorang beribadah; tetapi yang lebih utama lagi adalah apakah perkataannya sehari-hari mencerminkan kedalaman dan kekudusan seperti yang dilakukan saat dia sedang beribadah. Itulah sebabnya rasul Yakobus memberi peringatan demikian, “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya” (Yakobus 1:26). Ucapan yang benar sebagai manifestasi ibadah justru harus mampu dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari, barulah seluruh ungkapan dalam ibadah menjadi bermakna dan berkenan di hadapan Allah. Hal ini sesuai dengan perkataan dalam Mazmur 45:2c “…lidahku ialah pena seorang jurutulis yang mahir”.

Dengan demikian daya kekang terhadap lidah bukan karena penguasaan kita terhadap berbagai teknik diplomasi, tetapi karena seluruh kepribadian kita telah diperbaharui oleh Kristus dan berada dalam penguasaan Roh KudusNya. Sehingga ucapan kita tidak akan pernah merendahkan dan menghina sesama, dan pada pihak lain juga tidak akan berupaya untuk mencari muka hati sesama. Sebaliknya ucapan kita adalah ucapan yang senantiasa menyampaikan berkat dan kasih keselamatan Kristus kepada sesama yang bersedia untuk menerimaNya ataupun bagi sesama yang menolak dan tidak percaya kepada Kristus selaku Juru-selamatnya. Ucapan yang lahir dari spiritualitas Kristus tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, tetapi sepenuhnya dipengaruhi secara mendalam oleh karya pembaharuan Kristus dalam kehidupan umatNya. Jadi hanya Tuhan Yesus sajalah yang menjadi penguasa dalam kehidupan umatNya. Kristus yang memampukan kita untuk cepat mendengar, dan Kristus pula yang akan memampukan kita untuk selalu lambat berkata-kata agar roh hikmatNya yang berlaku.

Seringkali saat kita melampiaskan kemarahan, kita memperhalusnya dengan sebutan sebagai “kemarahan yang suci”. Alasannya karena kemarahan kita memiliki tujuan yang baik. Padahal semakin suatu tujuan itu baik dan suci, maka semakin kecillah kemungkinan bagi kita untuk marah (Yakobus 1:19-20) Setiap umat percaya dipanggil Allah untuk mampu mengendalikan diri sebab apapun bentuk amarah tidak akan dapat mengerjakan kebenaran di hadapanNya. Sebagaimana diketahui bahwa tombol amarah yang paling sensitif dan berbahaya adalah perkataan. Yang mana efektivitas tombol itu seperti seorang penguasa menekan tombol senjata maut atau nuklir. Sekali dia menekan tombol maut itu, maka dia tidak dapat kembali meralat dan mencegah ledakannya. Karena itu kualitas hidup umat percaya ditandai oleh 2 kemampuan yang saling terkait, yaitu kemampuan untuk mendengar sebanyak-banyaknya dan juga kemampuan untuk mengeluarkan perkataan yang selektif mungkin sesuai dengan roh hikmat Kristus. Jika demikian, sejauh manakah kehidupan kita telah diperbaharui oleh Tuhan Yesus? Semakin kehidupan kita diperbaharui oleh Kristus, maka semakin nyatalah daya penguasaan diri kita di tengah-tengah berbagai permasalahan dan tekanan hidup.

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *