Senin, 13 Juli 2020

PERKATAAN YANG MEMBANGUN (1)

Ayat Bacaan Hari ini: Yakobus 1:19-27

Ayat Hafalan: “Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.” Yakobus 1:21

Ungkapan “Mulutmu, Harimau-mu”, menyatakan betapa ‘dahsyatnya mulut kita’. Mulut bisa dipakai sebagai ‘alat berkat’, namun sekaligus juga bisa membangkitkan amarah bagi orang lain. Itulah sebabnya, jika kita menyadari bahwa mulut kita adalah harimau kita, maka kita akan selalu menjaga agar mulut kita tidak menjadi harimau yang membangkitkan kemarahan orang lain. Siapapun yang mengutarakan perkataan yang beracun akan mati oleh racun yang telah dikeluarkannya. Itu sebabnya mengapa kita memiliki 2 telinga dan satu mulut untuk berbicara. Maknanya adalah agar kita selalu berupaya untuk mendengar segala sesuatu dari 2 belah pihak sehingga kita dapat memperoleh informasi yang lengkap.

Dengan kesadaran bahwa setiap ucapan atau perkataan yang kita sampaikan begitu vital, maka banyak orang yang berusaha belajar bagaimana dia harus berbicara dan berkomunikasi. Tentunya upaya tersebut patut dihargai. Karena dengan upaya untuk memperbaiki dan memperhalus setiap ucapan berarti kita menginginkan suatu komunikasi yang baik. Itulah sebabnya dalam budaya Jawa sampai dikembangkan 7 tingkatan untuk berkomunikasi, yaitu: Ngoko, Ngoko Andhap, Madhya, Madhyantara, Kromo, Kromo Inggil, Bagongan, dan Kedhaton. Bahasa “Ngoko” adalah tingkatan bahasa yang paling rendah dan digunakan kepada orang-orang “rendahan” seperti: kuli, petani, atau paling tinggi kepada teman karib (itu pun dianggap tidak pantas digunakan oleh kaum ningrat). Kromo digunakan oleh kalangan yang dianggap memiliki kasta tinggi, terdidik, pintar dan “waskito”. Lalu “Kedhaton” dipergunakan saat kita berbicara kepada seorang raja. Tingkatan-tingkatan bahasa tersebut salah satunya bertujuan agar setiap ucapan yang keluar mencerminkan tingkatan sosial, pendidikan dan keluhuran budi. Semakin berbudi luhur, maka kita tidak akan mau menggunakan bahasa yang tingkatannya rendah dan kasar. Tetapi apakah tingkatan-tingkatan bahasa tersebut berhasil menetralisir “racun” yang terkandung dalam ucapan manusia? Mungkin dari sudut permukaan, seseorang dapat mengungkapkan pikirannya dengan tingkatan bahasa yang halus dan sopan. Tetapi tidak berarti dia telah memiliki motif yang luhur dan hati yang berbudi. Bahasa mencerminkan budi manusia, tetapi tidak berarti penggunaan bahasa yang halus selalu mencerminkan budi yang luhur.

Jika demikian, satu-satunya cara agar tutur kata kita selalu mencerminkan budi yang luhur adalah dengan hidup dikuasai oleh Firman Tuhan. Hanya Firman Tuhan yang dapat mengontrol hati dan pikiran kita dengan baik, dan bila hati serta pikiran kita sudah baik, maka yang keluar di mulut kita pasti hal-hal yang baik. Orang yang hidupnya dikuasai Firman Tuhan tidak akan mengeluarkan perkataan amarah atau negatif tanpa sebab. Tidak mungkin di dalam satu mata air, keluar 2 rasa air yang berbeda. Demikian pula dengan mulut kita, bila ada Firman Tuhan di dalamnya, tidak mungkin akan keluar kata-kata yang kasar, menyakitkan hati orang lain, atau bahkan merendahkan.

 

BILA MULUT ANDA MASIH SERING MENGELUARKAN PERKATAAN YANG KASAR, KATA-KATA KOTOR DAN MERENDAHKAN ORANG LAIN, TANYAKAN KEPADA DIRI ANDA SENDIRI : “TUHAN YANG MANA YANG ANDA IKUTI SAMPAI HARI INI?”

 

 

 

 

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *