Sabtu, 19 Desember 2020

MUJIZAT DIBALIK PUJIAN & PENYEMBAHAN (6)

 

Ayat Bacaan Hari ini: Yosua 6:1-27

 

Ayat Hafalan: “Lalu bersoraklah bangsa itu, sedang sangkakala ditiup; segera sesudah bangsa itu mendengar bunyi sangkakala, bersoraklah mereka dengan sorak yang nyaring. Maka runtuhlah tembok itu, lalu mereka memanjat masuk ke dalam kota, masing-masing langsung ke depan, dan merebut kota itu.” (Yosua 6:20).

 

(Sambungan…)

 

Pada kenyataannya bahwa tembok Yerikho roboh bukan karena kekuatan manusia ataupun alam tetapi oleh kuasa Tuhan. Hal ini merupakan suatu mujizat yang luar biasa. Hal tersebut dikatakan penulis Ibrani  “Karena iman maka runtuhlah tembok-tembok Yerikho, setelah kota itu dikelilingi tujuh hari lamanya” (Ibrani 11:30). Dalam Yosua 6:20 dicatat “Lalu bersoraklah bangsa itu, sedang sangkakala ditiup; segera sesudah bangsa itu mendengar bunyi sangkakala, bersoraklah mereka dengan sorak yang nyaring. Maka runtuhlah tembok itu, lalu mereka memanjat masuk ke dalam kota, masing-masing langsung ke depan, dan merebut kota itu.” Apa hubungan kedua ayat tersebut ?

 

Dalam kitab Yosua dijelaskan bahwa runtuhnya tembok disebabkan sorak-sorai (Shout). Dalam buku ‘Seni Menyembah’ karya  Selvaraj Sadhu Sundhar (Jakarta : Nafiri Gabriel, Oktober 199) disebutkan salah satu aspek ‘Pujian’ (Praise) adalah Shout. P (Prokliam) – R(Rejoice) – A(Applause) – I (Intimacy) – S(Shout) – E(Expression). Bersorak (shout) lebih dari sekedar bertepuk tangan, tetapi dengan segenap hati dan kekuatan meninggikan Allah dengan sorak– sorai. Bandingkan dengan kegembiraan yang meluap dengan penonton sepak bola piala dunia saat jagoannya menjadi pemenang. Keluar dari hati dan tiap orang memiliki penafsiran yang sangat pribadi tentang ekspresi.

 

Mungkin saat mereka mengeliling tembok Yerikho yang tebal sebanyak 13 kali, dalam jarak yang tidak terlalu jauh, yang mereka lihat adalah hanya kemustahilan untuk menembus tembok tersebut. Karena perintah Tuhan hanya tidak boleh bicara “Janganlah bersorak dan janganlah perdengarkan suaramu, sepatah katapun janganlah keluar dari mulutmu sampai pada hari aku mengatakan kepadamu: Bersoraklah!” (Yosua 6:10). Sehingga ketika mereka diperintahkan bersorak, pastilah teriakan yang keluar dari hati yang mengandalkan Tuhan sepenuhnya karena tidak ada yang dapat mereka lakukan. Alias menyerah. Teriakan seperti itu tentu bukan keluar dari mulut saja atau ikut-ikutan, tetapi pekik sorak yang berwarnakan iman atas kepastian yang Tuhan janjikan.

 

PELAJARAN DARI RUNTUHNYA YERIKHO

 

Pelajaran pertama adalah,

Tuhan tidak pernah mengajar umatNya untuk lari dari persoalan yang ada di hadapannya. Tuhan juga tidak mengambil alih peperangan tersebut. Yang benar adalah Tuhan mengajari kita untuk berperang dengan suatu kepastian bahwa kemenangan pasti menjadi milik kita. Jadi kita harus mau berperang (menghadapi masalah), tetapi kita juga harus ingat bahwa dalam peperangan itu kita tidak sendirian, sebab Tuhan memberikan kemenangan bagi kita. (Bersambung…)

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *