Rabu, 22 September 2021

MERENDAHKAN HATI DIHADAPAN TUHAN (3)

 

Ayat Bacaan Hari ini: Matius 23:1-36

 

Ayat Hafalan: Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. Matius 23:12

 

Dari segi tata bahasa, kata “rendah” adalah antonim (lawan) dari “tinggi”. Dalam pengertian bahasa dan kehidupan sehari-hari, kedua kata di atas jelas berbeda. Dan perbedaan semacam ini cukup banyak mewarnai Alkitab. Di sini kita dapat melihat adanya perbenturan yang sangat dahsyat antara nilai yang ditetapkan Yesus dengan nilai  yang diterapkan dunia. Ini sebenarnya tidak menyenangkan bagi banyak kalangan, termasuk para ahli Taurat yang merasa memiliki nilai tersendiri. Ayat di atas muncul ketika Yesus mengkritik orang-orang Farisi dan ahli Taurat.

 

Mereka memang mengajarkan Taurat tentang kebenaran, mengajarkan supaya setiap orang berperilaku benar. Namun, perilaku mereka sendiri tidak benar. Mereka tidak melakukan hal-hal yang semestinya mereka lakukan sebagai konsekuensi penga-jaran mereka. Artinya mereka telah berbuat kesalahan. Tragis, khotbah yang mereka sampaikan tidak lebih hanya berupa konsumsi dari mulut ke kuping. Tingkah laku mereka sehari-hari berlawanan dengan isi khotbah mereka. Ini tentu saja suatu penipuan, penyelewengan, yang tidak disukai oleh Tuhan. Mereka ingin menempatkan diri sebagai Musa pada jaman mereka. Mereka menempatkan diri menjadi tinggi, hebat, luar biasa melebihi siapa pun. Yang lebih parah, mereka juga sudah menempatkan diri sebagai wakil Tuhan.

 

Maka terjadilah penekanan para pemimpin agama terhadap umat. Tidak heran, jika banyak umat menjadi bodoh, karena tidak mau mencari kebenaran Allah, tetapi hanya mau mengarahkan telinga ke khotbah-khotbah yang seringkali tidak benar. Kondisi ini benar-benar mengerikan, apalagi umat sendiri pun kelihatannya kurang bergairah dalam membaca Alkitab dengan kritis dan teliti. Umat menjadi korban yang mudah di-ninabobo-kan oleh berbagai kepalsuan. Umat tidak lagi selektif atau sensitif untuk memperhatikan ayat demi ayat, kata demi kata.

 

Dengan menempatkan diri sebagai rabbi, para ahli Taurat juga menempatkan diri sebagai pusat segalanya, yang tahu segalanya. Artinya mereka meninggikan diri dengan  merebut porsi Allah, dengan segala kepongahan. Mereka telah bermusuhan dengan Allah, sebab Allah sangat benci terhadap orang yang sombong, pongah, yang hanya gemar meninggikan diri. Dalam doa pun, mereka hanya menonjolkan diri di hadapan Tuhan. Jebakan keagamaan memang mengerikan.

 

Karena itu hati-hatilah agar jangan sampai membuat suatu pengakuan sepihak bahwa kita adalah yang terbaik. Jangan sampai seperti ahli Taurat yang karena merasa dirinya paling suci, paling hebat, paling jago, malah berusaha merebut kekuasaan Allah. Dan karena itulah Tuhan mem-peringatkan, “Barangsiapa meninggikan dirinya, dia akan direndahkan.” Sebaliknya, berbahagialah mereka yang merendahkan dirinya. Merendahkan diri bukan berarti menempatkan diri lebih rendah dengan membungkukkan badan. Merendahkan diri di sini me-nyangkut sikap hati yang takluk pada kebenaran Allah, tunduk dan menyadari diri sebagai orang berdosa.

 

Status seperti ini sangat penting kita miliki. Ketika orang dekat dengan Tuhan, kesadarannya sangat tinggi. Hal seperti ini juga pernah dialami oleh Petrus. Saking merasa sangat rendah di hadapan Tuhan, dia malah meminta agar Tuhan menjauhinya, “Tuhan, menjauhlah dariku, orang berdosa ini…”

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *