Kamis, 09 Januari 2020

MEMBERI DENGAN PENUH PENGORBANAN

Ayat Bacaan Hari ini: 2 Korintus 8:1-15

Ayat Hafalan: “Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan.” 2 Korintus 8:5a

Hidup di zaman sulit seperti sekarang ini tak mudah menemukan orang yang punya kepedulian terhadap sesamanya, apalagi punya kemurahan hati. Sebagaimana yang Alkitab nyatakan, di masa-masa akhir, kebanyakan orang tak lagi punya kasih (kasih menjadi dingin), lebih cenderung mementingkan diri sendiri. Itu adalah gambaran tentang keadaan manusia pada masa akhir (2 Timotius 3:1-4).


Apa pun situasinya, orang percaya diajar untuk memiliki kasih seperti Kristus! Tak mudah memraktekkan kasih, karena kasih itu memberi.  Dalam hal memberi ini bukan semata-mata berbicara tentang pemberian yang berwujud uang atau materi, tapi juga memberi perhatian, waktu, tenaga, pikiran dan sebagainya. Adalah lebih mudah memberi ketika orang sedang terberkati atau memiliki harta lebih.  Memberi saat diri sendiri dalam keadaan kurang, mungkinkah? “Jangankan memberi, untuk kebutuhan diri sendiri saja sudah pas-pasan.” Akhirnya kita akan berpikir ulang 1000X bila ingin memberi. Perhatikan firman Tuhan ini: “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah 20:35b). Kebanyakan orang lebih suka menerima daripada memberi, tetapi prinsip Alkitab justru mengajarkan kita untuk banyak memberi, karena memberi justru menjadi kunci berkat. “Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan,” (Amsal 11:25).

 

Jemaat Makedonia adalah teladan bagi orang percaya dalam hal memberi. Sekalipun keadaan jemaat ini sangat pas-pasan, mereka memiliki hati yang terbeban untuk mendukung pekerjaan Tuhan. Yang mendasari mereka mampu memberi banyak, “…bahkan melampaui kemampuan mereka.” (2 Korintus 8:3) adalah kasih kepada Tuhan.  Kemurahan hati mereka justru berasal dari kekurangan/kemiskinannya. “Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.” (2 Korintus 8:2).

 

Secara materi mereka sangat berkekurangan, tapi mereka kaya dalam kemurahan.  Mereka memberi dengan sukacita meski di tengah penderitaan. Inilah yang disebut pemberian dengan pengorbanan: berkorban untuk Tuhan dari kekurangan atau kemiskinannya.

Kesimpulan: Setiap korban yang dipersembahkan untuk pekerjaan-Nya, Tuhan pasti perhitungkan!

Category
Tags

Comments are closed