Sabtu, 09 Oktober 2021

KUASA PENGAMPUNAN (6)

 

Ayat Bacaan Hari ini: Markus 11:20-26

 

Ayat Hafalan: Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu. Markus 11:26

 

Pernahkah anda mengalami sakit hati karena disakiti? Entah disakiti oleh teman kerja, teman sekolah, teman sepelayanan, pacar atau mungkin disakiti oleh orang yang sangat kita kasihi: suami atau isteri. Bagaimana rasanya? Sakitnya tuh disini (dengan menepuk dada). Kalau tubuh jasmani yang sakit kita masih bisa memeriksakan diri ke dokter, beli obat di apotek atau menjalani rawat inap di rumah sakit.  Tetapi kalau hati kita yang sakit, siapa yang bisa menyembuhkan?  Dan kita semakin dibuat terkejut dengan perintah Tuhan Yesus ini: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”  (Matius 5:44), bahkan kita diperintahkan untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita,  “…sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Matius 18:22). Apa nggak salah? Kita yang telah disakiti dan dilukai justru diperintahkan untuk mengasihi dan mengampuni mereka?

 

Banyak orang beranggapan bahwa mengasihi dan mengampuni kesalahan orang lain adalah sebuah pilihan:  kita bisa memilih untuk mengasihi dan mengampuni, atau tidak mengasihi dan tidak mengampuni. Tidak sedikit pula yang menganggap sepele arti sebuah pengampunan, padahal mengampuni adalah perintah Tuhan yang tidak boleh dilanggar. Sebagai orang percaya, mengampuni kesalahan orang lain seharusnya menjadi hal yang mudah untuk dilakukan. Mengapa? Karena kita sudah menerima pengampunan dari Tuhan lebih dahulu. Mengampuni berarti membebaskan, tidak lagi menuntut balas, menghapuskan, dan tidak mengingat-ingat lagi kesalahan (baca Matius 18:24-27); mengampuni berarti pula membuang jauh-jauh, tidak menyimpan kesalahan orang lain. “sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.” (Mazmur 103:12). Berkat terbesar ketika kita mau mengampuni orang lain adalah Tuhan akan mengampuni dosa kita (baca  Matius 6:14), namun jika kita tidak mau mengampuni, Tuhan pun tidak akan mengampuni kita (baca Matius 6:15).

 

Di Matius 18:21-35, ada seorang hamba yang seharusnya dihukum karena tak mampu melunasi hutang 10 ribu talenta. Oleh belas kasihan raja ia dibebaskan dan hutangnya dihapuskan. Setelah dibebaskan, ia berjumpa dengan temannya yang tak sanggup membayar hutang sebesar 100 dinar padanya. Temannya memohon belas kasihan padanya tetapi dia justru memasukkan temannya dalam penjara. Hamba itu telah menerima pengampunan atas hutang besar yang tak akan pernah mampu dibayarnya, tetapi dia tidak mau memberi pengampunan pada orang yang berhutang padanya dengan jumlah jauh lebih kecil dibanding hutangnya pada raja. Akhirnya sang raja murka dan menghukum dia sampai ia mampu melunasi seluruh hutangnya.

 

Mengampuni bukan hanya membebaskan orang lain dari “hutangnya” pada kita, tetapi mengampuni juga berarti membebaskan diri kita sendiri. Meski kita telah ditebus dari dosa dan maut, namun kita selalu memerlukan pengampunan dari Tuhan karena dalam hidup sehari-hari kita masih bisa jatuh dalam dosa. Bila kita mau diampuni oleh Tuhan, kita pun harus bersedia mengampuni sesama kita.

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *