Kamis, 02 Juli 2020

KUASA DALAM PERKATAAN (2)

Ayat Bacaan Hari ini: Efesus 4:1-32

Ayat hafalan: “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. (Efesus 4:29)

Menyadari pengaruh PERKATAAN terhadap kehidupan kita, maka pastikanlah PERKATAAN yang kita ucapkan adalah PERKATAAN yang positif, yang konstruktif atau membangun, dan bukan PERKATAAN yang negatif, yang destruktif atau menghancurkan.

Alkitab berkata : “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah PERKATAAN yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Efesus 4:29).

Dalam sebuah terjemahan, yang dimaksud dengan ‘perkataan kotor’ adalah ‘bad language’ atau bahasa yang buruk, kosa kata yang tidak baik. Itu sebabnya, kita perlu mendisiplin mulut kita untuk terlatih mengucapkan kata-kata yang selektif, jangan tergesa-gesa berbicara. Berhati-hati lah sebelum mengucapkan sesuatu. Pertama, sebelum Anda mengucapkan sesuatu, pikirkanlah bahwa benarkah yang saya katakan ini? Banyak PERKATAAN yang enak didengar, namun belum tentu itu berasal dari informasi yang benar. Kedua, pantaskah apa yang saya katakan ini? Banyak PERKATAAN yang mendesak untuk diutarakan namun belum tentu pantas untuk diucapkan. Ketiga, pentingkah apa yang saya katakan ini? Terkadang ada PERKATAAN yang sebenarnya tidak penting untuk dikatakan. Dan yang keempat, bergunakah apa yang hendak saya katakan ini?

Banyak perkataan yang sekalipun terasa penting namun tidak berguna untuk dikatakan.

Orang-orang besar, dikenal dan dikenang dengan kata-katanya yang besar. Sekalipun mereka telah ada, kata-katanya yang membangun tetap mampu membangkitkan motivasi dan menjadi sumber inspirasi yang abadi. PERKATAAN mereka sering dikutip sebagai quote dari generasi ke generasi.

Nelson Mandela, tokoh penentang rezim apartheid di Afrika Selatan yang dipenjara selama hampir tiga dekade, sangat paham tentang kuasa PERKATAAN. Kita tak jarang mengutip perkataannya saat ini, tetapi selama di dalam penjara, ia tidak banyak bicara karena menyadari akibat yang dapat ditimbulkannya. Satu dekade setelah pembebasannya, ia berkata : “Pengalaman selama 27 tahun mendekam di penjara telah mengajarkan saya untuk menggunakan kesunyian dan kesendirian itu guna memahami betapa berharganya PERKATAAN, dan betapa kuat dampak PERKATAAN terhadap hidup-mati seseorang”.

Mulailah membangun kebiasaan untuk memperkatakan PERKATAAN yang positif, kritik yang membangun, teguran yang penuh kasih dan nasehat yang membangkitkan semangat. Caranya, dengan menyendengkan telinga hati kita untuk belajar seperti seorang murid tentang cara-Nya berbicara: “Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan PERKATAAN aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid” (Yesaya 50:4).

 

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *