Rabu, 11 Agustus 2021

KEMERDEKAAN YANG SEJATI (3)

 

Ayat Bacaan Hari ini: Amsal 14:35

 

Ayat Hafalan: Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut. Amsal 14:12

 

Setiap bulan Agustus, ada beberapa negara yang merayakan hari kemerdekaannya, salah satunya negara Indonesia yang kita cintai ini. Sebagai warga negara Indonesia, kita bangga punya pemerintahan yang mandiri terlepas dari kendali bangsa lain, sehingga ke dalam kita punya keleluasaan mengatur diri kita sendiri, dan di luar kita berdiri sejajar dengan negara-negara lain dalam pergaulan internasional.

 

Selain sebagai warga negara Indonesia, kita juga adalah warga Kerajaan Sorga. Masing-masing status ini diperoleh sebagai hasil dari yang disebut sebagai “pembebasan” yang membuahkan kemerdekaan.

 

Kemerdekaan Negara Indonesia dan kemerdekaan seorang Kristen yang sejati diperoleh melalui pengorbanan dan curahan darah. Kemerdekaan Indonesia diraih melalui perjuangan para pendahulu-pendahulu kita yang rela mati demi terbebasnya bangsa Indonesia dari kolonialisme. Sama dengan itu, kita juga dibebaskan dari belenggu dosa karena Kristus rela menderita bahkan mati. Film “Passion of Christ” memberi kita gambaran tentang betapa menderitanya Kristus di hari penyaliban-Nya.

 

Namun, dari kesamaan tersebut, terdapat perbedaan yang substansial antara kedua kemerdekaan dimaksud, yakni bahwa (a) kemerdekaan Negara Indonesia diraih (achieved) sebagai hasil perjuangan rakyat Indonesia sendiri, bukan diberikan oleh bekas penjajah, dan sebaliknya, (b) kemerdekaan kita dari belenggu dosa, semata-mata adalah hasil anugerah Tuhan bagi kita yang kita terima (received) secara cuma-cuma.

 

Kemerdekaan Semu

 

Hidup di alam kemerdekaan sekarang ini memang memberi banyak kenyamanan. Apalagi di dalam dunia globalisasi saat ini. Globalisasi dan teknologi telah memberi manusia modern akses ke suatu produk yang disebut “kebebasan” yang lebih besar untuk memilih. Setiap orang pasti mendambakan kebebasan (dalam batas tertentu secara subjektif). Kebebasan memberi wadah dan kepuasan bagi manusia untuk menyalurkan daya cipta, rasa dan karsanya. Kebebasan memang menjadi hak asasi manusia.

 

Tetapi, “kebebasan” dapat berubah menjadi “kebablasan” apabila, dalam hubungan sosial, kebebasan yang ada tidak menghormati kebebasan orang lain. Kebebasan manusia yang merupakan suatu potensi, justru akan menjadi “krisis” apabila tidak dibatasi. Oleh karenanya, kebebasan saya harus dibatasi oleh kebebasan Anda, dan sebaliknya. Apabila tidak, manusia akan menjadi “serigala” bagi manusia lainnya (homo homini lupus).

 

Kebebasan akan mencapai tahap paling tragis dan ironis apabila kebebasan justru menciptakan “penjara” bagi yang bersangkutan. Tanpa kita sadari, kita pernah atau mungkin kerap terperangkap dan terbelenggu dengan “kebebasan” kita, apabila kita sudah tidak dapat berkata “tidak” untuk suatu pilihan dalam kebebasan dimaksud. Berapa banyak manusia yang sangat menikmati “kebebasan” yang melekat padanya sehingga ia sudah begitu tergantung pada “kebebasan” itu sendiri. Dosa memang manis. Tetapi “ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (Amsal 14:12; 16:25). Dunia tanpa Kristus ibarat sementara berbaris pada rute sedemikian. (Bersambung…)

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *