Jumat, 16 Oktober 2020

KARAKTER KRISTUS (5)

 

Ayat Bacaan Hari ini: Efesus 4:17-32

 

Ayat Hafalan: “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Efesus 4:32

 

( Sambungan…)

 

Kita diminta untuk mengasihi semua orang. Mengasihi semua bukan berarti selalu berkata “Ya” pada apapun permintaan mereka, mengasihi semua orang bukan berarti membenarkan semua perbuatan buruk dan dosa yang dilakukan orang-orang, tetapi mengasihi mereka sebagaimana Kristus mengasihi kita dan semua orang. Kristus mati di kayu salib untuk semua orang yang berdosa. Sebagai anak-anak TUHAN justru kita mengasihi sesama kita agar mereka melihat dan merasakan juga kasih yang telah TUHAN YESUS kita terima. Efesus 4:32, “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”Jika kita tidak mengasihi, lalu bagaimana jiwa-jiwa yang terhilang dapat bertemu dengan kasih-Nya melalui kita?

 

Karakter 2: Rela Berkorban

 

Perwujudan tertinggi dari kasih kepada sesama adalah mendahulukan orang lain, bahkan jika perlu berkorban demi mereka. Filipi 2:3-4, “…dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingan sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Ayat ini tidaklah ditujukan kepada semua orang, tetapi secara khusus ditujukan kepada jemaat TUHAN yaitu para pengikut Kristus. TUHAN membuktikan kasih-Nya yang luar biasa pada kita dengan mengorbankan diri-Nya di atas kayu salib mati ganti hukuman dosa-dosa kita. (Yohanes 3:16) Itu adalah bukti kasih-Nya yang tidak dilakukan oleh ilah manapun di alam semesta ini. Mendahulukan kepentingan orang lain atau pengorbanan adalah bentuk/wujud dari kasih.

 

Mari kita cek diri kita: apakah kita lebih mementingkan diri sendiri atau orang lain? Kasih yang sejati tidak akan pernah menempatkan diri sendiri sebagai yang utama, sekalipun itu berisiko bahkan sampai kepada kematian.

 

Pada tahun 1914, 124 anggota dari SAC ( organisasi kemanusiaan Kristen ) menaiki kapal The Empress hendak menuju ke London, Inggris guna menghadiri Konferensi Gereja di sana. Saat kapal ini melintasi samudera Atlantik yang penuh kabut tebal, kapal ini bertabrakan dengan sebuah kapal barang Norwegia. The Empress tenggelam dan lebih dari 1.000 penumpangnya tewas, termasuk ke-124 para Hamba Tuhan SAC tersebut. Yang menarik adalah, pada menit-menit evakuasi, para Hamba TUHAN ini justru sibuk membantu para penumpang meninggalkan kapal, membagikan alat-alat pelampung sembari berseru: “Anak-anak, Wanita dan yang belum mengenal Kristus terlebih dahulu! Anak-anak, Wanita dan yang belum mengenal Kristus terlebih dahulu!” Mereka mendahulukan anak-anak, wanita dan mereka yang belum mengenal Kristus untuk terlebih dahulu mendapat pelampung dan naik ke sekoci penyelamat. Ke-124 Hamba TUHAN mendahulukan orang lain; mereka berkorban. Usaha mereka mampu menyelamatkan lebih dari 1.000 orang dari total penumpang 2.000-an orang; sementara pelampung dan sekoci yang tersedia sebenarnya kurang dari angka itu. Bersediakah kita berkorban untuk orang lain? (Bersambung…)

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *