Kamis, 11 November 2021

HIDUP DALAM KEMURAHAN HATI (4)

 

Ayat Bacaan Hari ini: Lukas 6:27-36

 

Ayat Hafalan: Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” Lukas 6:36

 

(Sambungan…)

 

Kemurahan hati dalam Firman Tuhan mengacu kepada perbuatan, sikap, perilaku atau bentuk hati dari Tuhan dan manusia, yang sesungguhnya saling terkait satu sama lain. Apa saja yang diajarkan oleh Alkitab tentang kemurahan hati?

 

2. Murah hati adalah cerminan pribadi Allah 

 

Ayatnya sudah saya sampaikan sebelumnya: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” (Lukas 6:36) Seorang anak biasanya mewarisi sifat-sifat orang tuanya, termasuk ayah. Seorang ayah yang memberi keteladanan baik akan menghasilkan anak-anak berkualitas moral baik pula. Selain orang tua di dunia, kita punya Bapa Surgawi yang sangat mengasihi kita. Dia menginginkan yang terbaik bagi kita. Dia akan senantiasa menjaga, melindungi dan memberkati kita. Dia tidak pernah kekurangan waktu untuk mendengar kita dan mengulurkan bantuan. Dia tidak akan berhenti mengasihi kita dengan kasih setiaNya yang tak terbatas. Oleh karena itu, kalau kita menyadari betapa besar, banyak dan tak terbatasnya kemurahan hati Tuhan atas kita, sudah seharusnya kita pun mencerminkan sikap hati yang sama denganNya. Cerminan itu harus bisa terlihat atau dirasakan oleh sesama kita sehingga mereka bisa mengenal pribadi Allah lewat diri kita anak-anakNya.

 

3. Murah hati merupakan salah satu produk kasih 

 

Perhatikan ayat ini: “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.” (1 Korintus 13:4)

 

Inti dari keimanan kita akan Kristus adalah kasih. Kasih punya kekuatan begitu besar yang bahkan cukup punya power untuk menggerakkan Tuhan mengorbankan Yesus untuk menyelamatkan kita. Selanjutnya, dalam Galatia disebutkan bahwa kasih adalah salah satu buah Roh, alias buah-buah yang dihasilkan oleh orang yang dipimpin oleh Roh Allah, dan tidak ada satupun hukum yang mampu menentang hal tersebut. (Galatia 5:22-23). Jangan lupa bahwa kasih itu bukan sekedar perasaan hati, tapi merupakan pribadi Allah sendiri. “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:8). Allah adalah kasih. God is not just full of love, but He is the Love itself. Karena itu kita belumlah mengenal Allah apabila kita masih belum memiliki kasih dalam diri kita. Kasih terhadap Tuhan dan sesama yang ada dalam hati kita akan menghasilkan kualitas hati yang penuh dengan kemurahan dan kebaikan-kebaikan lainnya.

 

Satu hal yang pasti, Paulus sudah mengingatkan kita akan hal ini: “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” (1 Yohanes 2:6). Kalau begitu, siapkah kita mencerminkan pribadiNya yang murah hati dan penuh kasih dalam kehidupan sehari-hari? Kita harus siap datang kepada sesama kita, tanpa memandang latar belakang ras, suku, agama, golongan atau kepentingan politis dan menunjukkan kemurahan hati lewat tindakan nyata.

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *