Kategori : Renungan

Bacaan Firman Tuhan hari ini : Lukas 9:37-43a

 

M1 : Menerima Firman

Dalam firman Tuhan yang kita renungkan hari ini, ada seseorang yang memiliki kuasa yang mampu melakukan apa saja, tanpa persyaratan apa pun, selain percaya kepada-Nya. Dia adalah Yesus Kristus! Hal ini terungkap ketika salah satu dari orang yang mengikut Yesus datang memohon bantuan kepada Dia. Orang itu memiliki satu pergumulan, anak satu-satunya yang dia kasihi mengalami penderitaan, bukan hanya penyakit yang menyerang fisik sampai ia bisu (bnd. Mrk. 9:17), tetapi juga sakit rohani karena kerasukan roh jahat (38-39). Saat itulah, orang tersebut bertemu dengan Yesus, yang kemudian memulihkan keadaan anaknya. Dalam kehidupan sehari-hari, ada saja pergumulan yang harus kita hadapi. Penyakit yang bukan hanya disebabkan oleh kurang pandai menjaga kesehatan, tetapi juga karena banyaknya masalah yang harus kita pikirkan, seperti banyaknya pekerjaan yang kita harus selesaikan, kebutuhan hidup, masalah keluarga yang bila tidak diatasi akan menyebabkan munculnya pikiran-pikiran jahat yang membuat kita jatuh ke dalam kuasa dosa (kemabukan, judi, perselingkuhan, dll). Untuk itu mari kita mengatasi pergumulan dengan datang kepada kuasa yang lebih tinggi dari segala sesuatu, yaitu kuasa Yesus Kristus. Hanya kepada Dia saja kita harus menaruh rasa percaya kita.

 

M2 : Merenungkan Firman

1. Apa yang harus kita lakukan supaya terbebas dari penderitaan?

 

………………………………………………………………………………………………………………………………..

 

………………………………………………………………………………………………………………………………..

 

M3 : Melakukan Firman

Setelah membaca renungan ini, rhema apa yang Anda dapatkan?

 

M4: Membagikan Firman

Ceritakanlah kebenaran-kebenaran baru yang anda peroleh dari bacaan di atas kepada orang lain.

 

Ayat Hafalan : Matius 12:28

“Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.”

Bacaan Firman Tuhan hari ini : 1 Tesalonika 4:1-12

 

M1 : Menerima Firman

Menghadapi dunia yang saat ini semakin bergejolak di segala bidang kehidupan, sangat dibutuhkan usaha yang keras bila kita masih ingin bertahan hidup, jadi tidak ada istilah hidup santai dan bermalas-malasan. Begitu pula dalam hal rohani, seperti yang disampaikan rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika, yaitu untuk lebih bersungguh- sungguh lagi dalam menjalani hidup kekristenan agar hidup kita berkenan kepada Tuhan, sebab yang menjadi kehendak Allah adalah “…pengudusanmu, yaitu supaya kami menjauhi percabulan, bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah,” (1 Tesalonika 4:3, 5). Kata ‘bersungguh-sungguh’ (ayat 1) berarti serius dan tidak main-main lagi! Adapun maksud Paulus memberi nasehat adalah agar di hari-hari terakhir ini kita tidak main-main lagi dengan ibadah kita dan lebih bersungguh-sungguh dalam membangun hubungan dengan Tuhan. Banyak dari kita mungkin berkata bahwa sudah sungguh-sungguh di dalam Tuhan. Namun bila dibandingkan dengan jemaat di Tesalonika, kita sama sekali tidak ada apa-apanya; mereka tetap setia dan tekun melayani Tuhan di tengah penderitaan, tindasan dan segala kesukaran. Semangat mereka tidak pernah luntur untuk melakukan yang terbaik bagi Tuhan; itu pun masih diingatkan oleh Paulus untuk lebih lagi. Sementara kita, mendapat masalah sedikit saja sudah malas dan tidak mau melayani Tuhan; ditegur firman dengan keras mudah tersinggung. Mari kita lebih sungguh- sungguh lagi dalam melakukan kehendak Tuhan!

 

M2 : Merenungkan Firman

1. Apakah kita sudah termasuk dalam kategori orang-orang yang bersungguh-sungguh di dalam Tuhan? Jelaskan pendapat saudara.

 

………………………………………………………………………………………………………………………………..

 

………………………………………………………………………………………………………………………………..

 

M3 : Melakukan Firman

Setelah membaca renungan ini, rhema apa yang Anda dapatkan?

 

M4: Membagikan Firman

Ceritakanlah kebenaran-kebenaran baru yang anda peroleh dari bacaan di atas kepada orang lain.

 

Ayat Hafalan : 1 Tesalonika 4:1b

“Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.”

Bacaan Firman Tuhan hari ini : Yeremia 29:1-32

 

M1 : Menerima Firman

Untuk mencapai masa depan yang Allah janjikan, kita harus dengan tekun dan sabar menghadapi masalah, kesulitan dalam hidup kita. Nabi Yeremia memang memiliki sifat selalu berharap kepada Allah dan percaya pada rancangan Allah, apa pun kesulitan yang dia hadapi. Kepercayaan dan pengharapan inilah yang dia tuliskan kepada orang-orang Israel yang menjadi tawanan. Dia meminta mereka untuk sabar menantikan selesainya proses penghukuman Allah atas mereka yang oleh Allah dijadikan sebagai sarana untuk membentuk kesalehan umatNya. Dia mengingatkan mereka bahwa walaupun saat ini Allah membentuk mereka dengan keras, tetapi sesungguhnya, di balik kesusahan yang sementara, Allah sedang merancangkan suatu masa depan yang lebih indah dan penuh damai sejahtera (29:10-11). Pengharapan seperti inilah juga yang membuat Nabi Yeremia dapat bertahan menghadapi kesulitan dan penderitaan dalam pelayanannya. Kita harus percaya bahwa Allah memiliki rancangan damai sejahtera untuk hidup kita, yaitu rancangan masa depan yang indah dan penuh harapan. Banyak orang Kristen menginginkan kehidupan yang sejahtera dan masa depan yang terjamin, tetapi melupakan proses untuk menjadi murid Yesus Kristus.

 

M2 : Merenungkan Firman

1. Apa yang harus kita lakukan, supaya lewat penderitaan, kita memperoleh janji-janji Tuhan!

 

………………………………………………………………………………………………………………………………..

 

………………………………………………………………………………………………………………………………..

 

M3 : Melakukan Firman

Setelah membaca renungan ini, rhema apa yang Anda dapatkan?

 

M4: Membagikan Firman

Ceritakanlah kebenaran-kebenaran baru yang anda peroleh dari bacaan di atas kepada orang lain.

 

Ayat Hafalan : Yeremia 29:11

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN,yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

ALLAH PEDULI DAN MENGERTI PENDERITAAN KITA

Bacaan Firman Tuhan hari ini : Yesaya 47:1-15

 

M1 : Menerima Firman

Tidak satu bangsa pun yang diperbolehkan menindas umat kepunyaan Allah lebih dari yang diizinkan oleh Allah. Allah telah memberi izin kepada Babel untuk menjajah umat-Nya. Ia memberi izin, karena umat-Nya telah berpaling dari-Nya (6). Sayangnya Babel tidak tahu diri. Ia tidak menaruh belas kasihan terhadap umat Israel. Ia berlaku sewenang-wenang terhadap umat Israel. Babel bahkan ingin berkuasa atas Israel untuk selama-lamanya sehingga mereka menindas dan merendahkan bangsa ini (7-10). Hal ini memicu amarah Allah, yang empunya umat Israel. Allah menurunkan kemuliaan Babel hingga ke posisi yang terendah (1-3). Ia bahkan menggantikan kemuliaan mereka dengan nista dan aib. Allah sendiri yang melakukan pembalasan itu (3-4). Ayat 8-15 memaparkan kedahsyatan malapetaka yang ditimpakanNya kepada Babel. Sejarah membuktikan bahwa kejayaan bangsa Babel tidak bertahan lama. Firman ini memberi penghiburan bagi kita, bahwa Allah peduli kepada umatNya. Allah tidak berdiam diri atas penderitaan umatNya. Memang, Allah sendiri dalam kedaulatan-Nya bisa memakai siapa saja untuk menghukum maupun memberkati umatNya. Di balik semua itu, Allah sangat peduli akan umatNya. Ia tidak mengizinkan musuh menindas umatNya. Percayalah kepadaNya!

 

M2 : Merenungkan Firman

1. Mengapa kita tidak boleh kuatir terhadap penderitaan yang kita alami?

 

………………………………………………………………………………………………………………………………..

 

………………………………………………………………………………………………………………………………..

 

M3 : Melakukan Firman

Setelah membaca renungan ini, rhema apa yang Anda dapatkan?

 

M4: Membagikan Firman

Ceritakanlah kebenaran-kebenaran baru yang anda peroleh dari bacaan di atas kepada orang lain.

 

Ayat Hafalan : 1 Petrus 5:7

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”

Bacaan Firman Tuhan hari ini : Wahyu 6:1-17

 

M1 : Menerima Firman

Kekristenan pada awal mula perkembangannya menghadapi banyak sekali tantangan, sehingga tidak sedikit orang Kristen yang menjadi martir oleh karena imannya kepada Kristus. Namun, melalui penglihatan Yohanes hari ini, kita diperlihatkan bahwa para martir itu memperoleh pembenaran di hadirat Allah (6:9-11). Penderitaan jasmaniah yang mereka alami karena iman kepada Kristus digantikan dengan berkat dan sukacita yang tiada taranya. Semua penguasa dari berbagai kalangan masyarakat di bumi sangat ketakutan ketika murka Allah dinyatakan. Mereka berharap bahwa mereka tidak menyaksikan saat murka Allah diungkapkan karena tidak seorang pun yang dapat bertahan di hadapan penghakimanNya (6:16). Sebaliknya, kesederhanaan iman, diri yang dinilai ringkih (lemah) karena bersandar seutuhnya kepada Tuhan, justru menyebabkan seorang percaya dapat berdiri dengan yakin di hadapan Allah (6:10). Oleh karena itu, pilihan terbaik bagi kita adalah tetap bertahan dan bertekun dalam iman. Mungkin kita tidak mengalami tantangan yang mengancam nyawa seperti yang dialami oleh gereja mula-mula. Namun, kita mungkin sering dicemooh atau disalah mengerti oleh karena kita adalah satu-satunya orang Kristen dalam keluarga. Atau, kita mungkin dipandang aneh saat ingin menjaga integritas hidup Kristiani di tengah lingkungan pekerjaan yang semuanya sangat permisif terhadap kebenaran. Memang, ada harga yang harus dibayar untuk senantiasa berpegang pada iman dalam Kristus. Namun, berkat terindah tersedia bagi mereka yang setia.

 

M2 : Merenungkan Firman

1. Berkat apa yang kita peroleh apabila kita mau tetap setia meskipun dalam penderitaan?

 

………………………………………………………………………………………………………………………………..

 

………………………………………………………………………………………………………………………………..

 

M3 : Melakukan Firman

Setelah membaca renungan ini, rhema apa yang Anda dapatkan?

 

M4: Membagikan Firman

Ceritakanlah kebenaran-kebenaran baru yang anda peroleh dari bacaan di atas kepada orang lain.

 

Ayat Hafalan : 2 Korintus 4:17

“Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebih segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami.”